Anak Petani dan Papalele Itu Kini Menjadi Wali Kota Ambon

- Redaksi

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 13:07 WIT

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🤝 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Donasi

GardaMaluku.com, Ambon; Sebelum duduk di kursi Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena adalah seorang anak dari keluarga sederhana di Negeri Siwang, Kelurahan Urimesing, Kota Ambon. Ia tumbuh dalam keterbatasan, membantu ibunya menjual makanan ringan, berangkat ke sekolah dengan sepeda, dan belajar dengan fasilitas seadanya.

Kini, perjalanan hidup itu menjadi bagian dari pesan yang ia sampaikan kepada generasi muda: keadaan keluarga bukan penentu akhir masa depan seseorang.

Bodewin lahir pada 4 Mei 1975. Ia merupakan satu-satunya anak laki-laki dari empat bersaudara. Ayahnya seorang petani, sementara ibunya bekerja sebagai papalele—sebutan bagi pedagang kecil yang menjajakan barang atau makanan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mereka hidup dalam kondisi ekonomi yang jauh dari berkecukupan. Rumah keluarga itu berdinding bambu, dengan kehidupan sehari-hari yang menuntut setiap anggota keluarga ikut berjuang.

Keterbatasan bahkan terasa sejak pagi sebelum berangkat ke sekolah. Bodewin harus berjalan menuju tempat pemandian di kawasan Seri dengan membawa pakaian seragam dan sebatang obor. Air yang terbatas membuat aktivitas sederhana seperti mandi sebelum sekolah menjadi bagian dari perjuangan masa kecilnya.

Namun, keadaan itu tidak membuatnya menyerah pada pendidikan.

Bodewin mengawali pendidikan di SD Kristen Seri hingga kelas III, kemudian melanjutkan sekolah di SD Naskat Ama Ory, Passo, sampai lulus pada 1987. Ia kemudian bersekolah di SMP Negeri Hang Tuah Halong dan SMA Negeri Lateri, yang kini dikenal sebagai SMA Negeri 4 Ambon.

Di tengah keterbatasan ekonomi, ia tetap berusaha mempertahankan prestasi. Buku pelajaran tidak selalu tersedia. Ia bahkan mengaku kerap dimarahi di sekolah karena tidak memiliki buku cetak. Namun, saat pembagian hasil belajar, namanya justru berulang kali tercatat sebagai juara kelas.

“Saya sering dimarahi di sekolah lantaran tidak punya buku cetak, tetapi saat pembagian hasil, saya selalu mendapatkan juara kelas,” ujar Wattimena saat menjadi tokoh inspiratif dalam kegiatan di SMP Negeri 4 Ambon, Kamis (8/10/2026).

Baca Juga :  Soal Kebakaran Taniwel, Pemkot Ambon Akan Salurkan Bantuan

Di luar kegiatan belajar, ia membantu orang tuanya mencari nafkah. Makanan ringan, es, hingga kue buatan sang ibu dijual untuk menambah penghasilan keluarga. Baginya, kemiskinan bukan alasan untuk berpangku tangan ketika orang tua harus bekerja keras memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Pengalaman itu membentuk cara pandangnya tentang kehidupan. Ia belajar memahami kesulitan, menghargai perjuangan orang tua, dan menyadari bahwa keberhasilan tidak datang tanpa ketekunan.

Dari bangku sekolah menuju STPDN

Setelah lulus SMA, Bodewin tidak langsung melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Kondisi dan berbagai keterbatasan membuat pilihannya tidak banyak. Ia kemudian mengikuti tes Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN), jalur pendidikan yang kelak membawanya memasuki dunia pemerintahan.

“Tuhan punya rencana yang lain. Satu-satunya yang saya ikut hanya tes STPDN,” tuturnya.

Kesempatan itu menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya. Dari keluarga petani dan papalele, Bodewin melangkah menuju pendidikan kedinasan, hingga akhirnya meniti karier di pemerintahan.

Ada satu kenangan masa sekolah yang masih diingatnya. Para guru kerap memuji prestasinya di hadapan orang tuanya. Bahkan, muncul candaan yang kemudian terdengar seperti sebuah doa.

“Beta sudah bosan kasih hadiah buat mama, karena tiap tahun Bodewin dapat juara,” demikian ungkapan yang ia kenang dari masa sekolahnya.

Di tengah kebanggaan atas prestasi itu, pernah pula muncul ucapan bahwa suatu hari kelak Bodewin mungkin menjadi Wali Kota Ambon. Saat itu, ia masih berusia sekitar 11 tahun.

Ucapan tersebut kini menjadi bagian dari cerita panjang perjalanan hidupnya. Ketika hendak menempuh pendidikan di STPDN, sang ibu kembali menitipkan pesan sederhana yang terus diingatnya.

“Ingatang kerja bae-bae, mudah-mudahan besok jadi Walikota,” kata ibunya.

Pesan itu bukan sekadar harapan seorang ibu. Di baliknya ada doa, pengorbanan, dan keyakinan bahwa pendidikan dapat membuka jalan bagi masa depan yang lebih baik.

Baca Juga :  Gatering Media KPU Kota Ambon Perkuat Komitmen Sukseskan Pilkada Serentak 2024

Pesan untuk generasi muda

Di hadapan para siswa SMP Negeri 4 Ambon, Bodewin mengajak generasi muda untuk tidak menjadikan keterbatasan keluarga sebagai alasan untuk berhenti bermimpi. Ia menekankan pentingnya menghormati orang tua, tekun belajar, dan membangun karakter sejak dini.

Menurut dia, tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya mengalami kegagalan. Orang tua yang bekerja sebagai petani sekalipun tentu berharap anak-anak mereka memperoleh kehidupan yang lebih baik.

“Kalau mau menjadi anak yang hebat, jangan melawan orang tua. Harus tekun belajar dan cerdas,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh sikap, kedisiplinan, dan kesungguhan menjalankan tanggung jawab.

“Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya gagal di masa depan. Hari ini kalau ada yang bapaknya seorang petani, tidak mungkin bapaknya juga menginginkan anaknya menjadi petani. Pasti ia menginginkan anaknya sukses lebih dari dirinya,” kata Bodewin.

Bagi Bodewin, salah satu hal yang paling membanggakan dari perjalanan hidupnya adalah kenyataan bahwa seorang anak dari Siwang dapat menjadi Wali Kota Ambon.

Perjalanan itu tidak menghapus masa lalunya. Sebaliknya, pengalaman hidup dalam keterbatasan menjadi pengingat tentang asal-usul, perjuangan keluarga, dan pentingnya memberi kesempatan kepada generasi berikutnya untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Di akhir pesannya, ia menyampaikan ungkapan dalam bahasa Melayu Ambon yang mencerminkan semangat untuk menghadapi kehidupan.

“Biang hidup kasiang, jang taku.”

Hidup boleh sulit, keadaan boleh terbatas, tetapi anak-anak muda tidak boleh kehilangan keberanian untuk berusaha.

Bagi Bodewin, tugas utama para pelajar saat ini adalah belajar, menghormati orang tua, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.

Dari Siwang, dari keluarga petani dan papalele, perjalanan Bodewin Wattimena menjadi pengingat bahwa masa lalu yang sederhana tidak harus membatasi cita-cita seseorang.***

Follow WhatsApp Channel gardamaluku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Lima Pengurus Kecamatan Golkar Demo Pencopotan Sepihak oleh Ely Toisutta
Toce Leuwol Diadukan ke Bareskrim dan Kejagung, Terkait Dugaan Pekerjaan Fiktif Proyek Jalan 23,78M
Pica Rekor 4 Juta Ton, Bulog Gelar Tasyukuran Bersama Komisi IV DPR RI
Korem 151/Binaiya Wujudkan Kepedulian Lewat Karya Bakti di Panti Asuhan Santa Maria
Bantah Namanya Terima Pungutan Liar Galian C, Walikota Minta Lapor Secara Resmi Agar Diperiksa
Walikota Minta Perbanyak Kegiatan Pemkot Agar Hotel dan UMKM Diberdayakan
Buka FGD Evaluasi Kelembagaan Perangkat Daerah Pemkot Ambon, Walikota Soroti Struktur Organisasi OPD
Maluku Jangan Hanya Menjadi Penonton di Negeri Sendiri

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 14:26 WIT

Lima Pengurus Kecamatan Golkar Demo Pencopotan Sepihak oleh Ely Toisutta

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 13:07 WIT

Anak Petani dan Papalele Itu Kini Menjadi Wali Kota Ambon

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 09:25 WIT

Toce Leuwol Diadukan ke Bareskrim dan Kejagung, Terkait Dugaan Pekerjaan Fiktif Proyek Jalan 23,78M

Jumat, 9 Oktober 2026 - 23:54 WIT

Pica Rekor 4 Juta Ton, Bulog Gelar Tasyukuran Bersama Komisi IV DPR RI

Kamis, 8 Oktober 2026 - 18:39 WIT

Bantah Namanya Terima Pungutan Liar Galian C, Walikota Minta Lapor Secara Resmi Agar Diperiksa

Berita Terbaru

Opini

Anak Petani dan Papalele Itu Kini Menjadi Wali Kota Ambon

Sabtu, 10 Okt 2026 - 13:07 WIT