Petrus Werembinan, “Pulau Kecil Tanimbar Menanggung Beban Lingkungan Terlalu Besar”

- Redaksi

Kamis, 8 Oktober 2026 - 00:13 WIT

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🤝 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Donasi

Tanimbar, Garda-Maluku.com, – Anggota DPRD Kepulauan Tanimbar, Petrus Werembinan, melontarkan peringatan serius tentang kondisi lingkungan di Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Menurutnya, pulau kecil ini menanggung beban lingkungan yang jauh melampaui kapasitasnya, akibat tumpukan proyek ekstraktif yang beroperasi secara bersamaan.

“Luar biasa, pulau kecil ini mesti mendapat beban lingkungan yang terlalu besar,” ujar Petrus dalam audiensi bersama Forum Save Hutan Yamdena di gedung DPRD Kepulauan Tanimbar, Senin (28/9/2026).

Dua Beban Besar yang Menumpuk

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Petrus mengidentifikasi dua sumber utama beban lingkungan yang kini menekan Tanimbar. Pertama, operasi Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang telah berlangsung sekian tahun dan dinilai telah mengeksploitasi Hutan Yamdena secara berlebihan.

“Beban lingkungan yang dulu hanya kita dapat dari HPH,” katanya.

Kedua, beban baru yang datang dari Proyek Strategis Nasional (PSN) Blok Migas Masela. Kehadiran proyek raksasa ini, menurut Petrus, menambah tekanan yang harus ditanggung oleh pulau kecil di Maluku Barat Daya tersebut.

“Kini tambah lagi dari PSN Blok Migas Masela,” tegasnya.

Beban Lingkungan Hanyalah Sebagian

Yang lebih mengkhawatirkan, kata Petrus, beban lingkungan hanyalah sebagian dari persoalan. Ia menyebut ada beban sosial yang ia gambarkan sebagai “mengerikan” dan belum sepenuhnya terhitung.

Baca Juga :  Ancaman Aksi Massa, Rencana Penjagaan Ketat Aparat di Perempatan Batalyon, Warga Lermatang Siap Turun Jalan

“Itu baru beban lingkungan. Belum lagi beban sosial yang mengerikan,” ujarnya dengan nada prihatin.

Petrus tidak merinci secara detail apa saja beban sosial yang dimaksud, namun ia menegaskan bahwa kombinasi antara beban lingkungan dan sosial menciptakan situasi yang tidak berkelanjutan bagi masyarakat Tanimbar.

Salah Satu Harus Keluar

Dari analisisnya tersebut, Petrus menyimpulkan bahwa Tanimbar tidak mungkin menanggung kedua beban besar secara bersamaan. Ia menyerukan agar salah satu proyek dievaluasi dan dihentikan.

“Karena itu kita harus meningkatkan beban itu dengan salah satu harus keluar, supaya kita lebih fokus pada beban lingkungan dan sosial yang nanti terdampak dengan hadirnya PSN Blok Masela,” jelasnya.

Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa Petrus lebih memilih HPH yang dicabut izinnya, sementara PSN Blok Masela tetap berjalan dengan pengelolaan dampak yang lebih serius. Hal ini sejalan dengan sikap tegasnya yang menolak perpanjangan HPH.

“Tolak, sudah tidak ada lagi kata terima. Sekian tahun sudah cukup,” tegasnya.

Kapasitas Pulau Kecil yang Terbatas

Baca Juga :  Tim Advokat Fatlalon Sebut JPU Berlindung Dibalik Dalil Pokok Perkara Karena Gagal Susun Dakwaan

Pernyataan Petrus menyoroti persoalan mendasar tentang kapasitas daya dukung lingkungan pulau-pulau kecil. Tanimbar, sebagai gugusan pulau kecil dengan ekosistem yang rentan, memiliki keterbatasan dalam menyerap dampak lingkungan dari aktivitas industri ekstraktif.

Hutan Yamdena sendiri merupakan salah satu hutan hujan tropis terbesar yang tersisa di Maluku dan menjadi habitat bagi berbagai spesies endemik. Sementara Blok Masela merupakan proyek gas alam strategis yang diklaim memiliki nilai investasi triliunan rupiah.

Kombinasi keduanya di wilayah yang relatif kecil menciptakan tekanan yang tidak proporsional terhadap lingkungan dan masyarakat setempat.

Petrus berharap pernyataannya dapat menjadi alarm bagi semua pihak, terutama pemerintah pusat, untuk lebih serius mempertimbangkan daya dukung lingkungan Tanimbar sebelum mengambil keputusan terkait izin-izin ekstraktif di wilayah tersebut.

“Kita harus lebih fokus pada beban lingkungan dan sosial yang nanti terdampak,” pungkasnya.

Pernyataan Petrus Werembinan ini menjadi pengingat bahwa pembangunan di pulau-pulau kecil tidak bisa disamakan dengan pembangunan di wilayah lain yang memiliki kapasitas lebih besar. Tanimbar, dengan segala kekayaan alam dan kerentanan ekosistemnya, membutuhkan pendekatan yang lebih hati-hati dan berkelanjutan.

Follow WhatsApp Channel gardamaluku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ultrapetita dan Obscurum Libellum, Dua Asas yang Bikin Eksekusi Tanah Saumlaki Layak Ditangguhkan
FH UNLESA Kembali Luluskan Sarjana Hukum, Dekan Titip Pesan Integritas
Tanah, Tanaman dan Harapan Warga Lermatan
Anjangsana TNI di Gereja Paroki Olilit Barat,  RD. Pnosio: TNI Hadir, Warga Tanimbar Merasa Terlindungi
Fredek Kormpaulun: KJPP Jangan Datang Sendiri, Libatkan Tim Pendataan Subjek dan Objek
Danlanal Saumlaki dan Vikep KKT Duduk Semeja, Merajut Sinergi demi Tanimbar
LSM Altar: Rp1,12 M Mandriak, Rakyat Berhak Tahu!
Buntut Dugaan Korupsi UP3 KKT, LSM Altar Beri Ultimatum: Usut Sebelum 17 Agustus atau Geruduk Lapangan Mandrwiak

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 00:13 WIT

Petrus Werembinan, “Pulau Kecil Tanimbar Menanggung Beban Lingkungan Terlalu Besar”

Jumat, 2 Oktober 2026 - 12:38 WIT

Ultrapetita dan Obscurum Libellum, Dua Asas yang Bikin Eksekusi Tanah Saumlaki Layak Ditangguhkan

Kamis, 24 September 2026 - 02:18 WIT

FH UNLESA Kembali Luluskan Sarjana Hukum, Dekan Titip Pesan Integritas

Rabu, 23 September 2026 - 14:12 WIT

Tanah, Tanaman dan Harapan Warga Lermatan

Rabu, 23 September 2026 - 13:33 WIT

Anjangsana TNI di Gereja Paroki Olilit Barat,  RD. Pnosio: TNI Hadir, Warga Tanimbar Merasa Terlindungi

Berita Terbaru

AMBON

Wagub Maluku Buka Bakti TNI AD untuk Rakyat di MBD,

Rabu, 7 Okt 2026 - 17:52 WIT