Dibalik Hentaran Lima Keranjang ke Negeri Waraka

- Redaksi

Senin, 30 Maret 2026 - 12:01 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MALUKU TENGAH,- Berawal dari desa kecil bernama Jerili, sebuah desa asal Pulau Serua yang kini bermukim di bumi Pamahanusa, Pulau Seram atau yang lebih dikenal dengan transmigrasi lokal asal tiga pulau Teon Nila Serua (TNS) di Kecamatan Waipia.

Selasa pagi, (24/03/2026) sekitar pukul 07.00 WIT berkumpul Keluarga Besar Pormes berbalut baju cele di rumah Ongka (sebutan adat setempat bagi Kepala Desa) yang terlihat tengah bersiap – siap untuk menghentarkan harta adat salah satu putra mereka, Zeth Pormes yang tersusun rapi di dalam lima buah keranjang dibalut dengan kain merah ke Negeri Waraka Paisine Yamalatu, Kecamatan Elpaputih, Kabupaten Maluku Tengah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Harta yang dihentarkan itu merupakan kewajiban adat yang harus dipenuhi dari Zeth Pormes untuk dibayarkan kepada Negeri karena telah mempersunting anak perempuan Negeri Waraka dari mata rumah Anenjola – Anamofa menjadi isterinya.

Iring-iringan mobil terlihat mulai bergerak sekitar pukul 07.30 WIT memulai perjalannya menempuh jarak kurang lebih sekitar sepuluh kilo meter. Dalam rombongan tersebut hadir juga Camat Waipia bersama Ketua Latupati TNS.

Rombongan yang tiba kemudian dipersilahkan masuk ke rumah tua Anenjola – Anamofa, untuk mempersipakan semunya sebelum berjalan menuju “Baileo Besar Ina Ama Latu Lailossate”.

Setelah memanjatkan doa kepada Maha Pencipta, kedua keluarga besar berjalan menunju ke Baileo diawali dengan lima orang gadis cantik dari Keluarga Pormes masing – masing membawa keranjang diatas kepala mereka.

Sesampai di Baileo, rombongan disambut Raja Negeri Waraka “Ina Ama Latu Lailossate” ke – 20 bersama para tetua adat serta lembaga adat. Namun sebelum keluarga dipersilahkan naik ke Baileo mereka harus diperhadapkan dengan tuan tanah.

Baca Juga :  UU Kepulauan Solusi Penanganan Konflik sosial Maluku - Malut

Dengan menggunakan kapata (isitilah bahasa adat) Keluarga Pormes dengan “Teon Ilinawa” meminta ijin kepada tuan tanah untuk membawa harta mereka ke atas Baileo. Ijin diberikan, rombongan akhirnya diterima dan dipersilahkan masuk kedalam baileo.

Berbagai lantunan kapata pun terdengar saling bersahutan laksana uapacara adat, membuat sebagian yang hadir merinding. Sebuah pemandangan yang menggambarkan historikal dari kekayaan adat di bumi raja –raja.

Prosesi penyerahan harta mulai dilakukan. Dimana dari lima keranjang itu masing –masing keranjang diserahkan kepada Pemerintah Negeri, tuah-tuah adat, kepada Soa Latu, soa tempat keluarga Anenjola – Anamofa bernaung dan kepada pemuda – pemudi.

Menilik isi keranjang, harta yang dibawa ternyata bukanlah berisikan barang mewah atau benda-benda berharga. Namun didalmnya hanya terdapat tembakau, daun sirih, buah sirih, kapur, buah pinang, lima helai kain merah dan kain putih serta lima botol sopi.

Dari harta itu kemudian dibagikan kepada setiap yang hadir dalam baileo untuk mencicipinya secara bersama – sama. Mulai dari memakan pinang daun sirih yang diolesi kapur serta tembakau, dilnajutkan dengan minum sopi yang dibagikan pada wadah sloki terbuat dari batang bambu.

Disela –sela acara Zeth Pormes bersama isteri mendapat sebuah hadiah istimewa dari Ina Ama Latu Lailossate ke – 20 berupa sebotol air. Konon kabarnya air itu didapiati dengan cara yang sulit, yakni harus melewati prosesi adat.

Dengan prosesi adat itu, Zeth Pormes kini telah menjadi bagian dari anak adat Negeri Waraka terkhusunya masuk pada “Soa Latu” Soa Raja.

Setelah melewati semua proses adat itu, Stevi Melay merupakan perwakilan dari Keluarga Pormes menyampaikan ucapan terimakasih karena telah memberikan kesempatan bagi saudara mereka membayar harta ke Negeri Waraka, sekaligus menerima dia menjadi bagian dari anak adat negeri pormes.

Baca Juga :  PC IMM Malteng Gelar Pelantikan dan Rapat Kerja

Prosesi adat itu ditutup dengan doa bersama dari tiga kominitas agama yang berada di Negeri Waraka, yakni, Islam, Protestan dan Katholik. Rombongan pun meningggalkan Baileo bertolak ke rumah tua Anenjola – Anamofa.

Seusai semua prosesi itu, Ina Ama Latu Lailossate ke – 20, R.Y.B. Lailossa, SH menjelaskan, berkaitan dengan upacara adat harta negeri yang diberikan Keluarga Pormes – Wakano dan Keluarga Anenjola – Anamofa itu merupakan kewajiban tradisi turun temurun yang sudah ada di Negeri Waraka.

“Karena di negeri ini kalau kita punya anak perempuan kawin keluar maka dia harus membayar harta untuk negeri, pemuda dan pemudi. Itu harus dipertanggung jawabkan kepada Upulatu dan juga Lembaga adat, terkhusunya soa yang dia diami yakni soa latu,” terangnya.

Acara adat hari ini, menurut Raja Lailossa, adalah kewajiban sebagai anak – anak negeri. Sehingga sebagai pimpinan adat pada negeri dirinya punya kewajiban untuk bertanggungjawab untuk melihat bagaimana potensi yang ada didalam negeri terkait dengan adat dan budaya.

“Kalau dari Soa Latu sudah menyampaikan menjunjung tinggi Keluarga Pormes dan Anenjola, sehingga mereka sudah tergabung dalam struktur adat Negeri Waraka Paisine Yamalatu, khusunya dalam soa Latu,” tutup Raja.

Dari prosesi adat ini ada sebuah nilai spritual moralitas yang tersirat di dalamnya. Bahwa para leluhur sudah mengajarkan kita untuk memiliki rasa hormat, menghargai, menjaga sebuah ikatan tanggungjawab yang terbalut dalam bingkai tradisi.

Terutama tentang menghargai bukan kepada anak perempuan yang kemudian hari dijadikan sebagai pendamping hidup kita, tetapi soal hidup persaudaraan, bahkan negeri dan adat setempat. (Redaksi)

Berita Terkait

PKK SBB Juara I, Gubernur Maluku Tegaskan Peran Strategis
Tegas dan Terarah, RBPL HIPMI Maluku Mandatkan Ketum Tentukan Rekomendasi Munas
Wattimena : Adipura Bukan Fokus Utama 
Kodam XV Terkesan Abaikan Tanggungjawab Korban Lakalantas Truck TNI
Evaluasi PAD Berbasis Fakta, Disperindag Maluku Dinilai Ikuti Arah Kebijakan Gubernur
RDP Disperindag dan DPRD Maluku Sepakati Penguatan Penataan Pasar Mardika Berbasis Data Akurat
Antara Kewenangan dan Kepentingan, Ampera Maluku Uji Komitmen DPRD SBB Awasi Tambang
Gerakan “Bersih-Bersih” Didorong, KNPI SBB Minta Bupati Asri Tegas Soal Aset Daerah

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 14:11 WIT

PKK SBB Juara I, Gubernur Maluku Tegaskan Peran Strategis

Rabu, 15 April 2026 - 20:13 WIT

Tegas dan Terarah, RBPL HIPMI Maluku Mandatkan Ketum Tentukan Rekomendasi Munas

Rabu, 15 April 2026 - 16:28 WIT

Kodam XV Terkesan Abaikan Tanggungjawab Korban Lakalantas Truck TNI

Selasa, 14 April 2026 - 12:15 WIT

Evaluasi PAD Berbasis Fakta, Disperindag Maluku Dinilai Ikuti Arah Kebijakan Gubernur

Senin, 13 April 2026 - 20:10 WIT

RDP Disperindag dan DPRD Maluku Sepakati Penguatan Penataan Pasar Mardika Berbasis Data Akurat

Berita Terbaru

Daerah

PKK SBB Juara I, Gubernur Maluku Tegaskan Peran Strategis

Jumat, 17 Apr 2026 - 14:11 WIT

AMBON

Richard Luhukay Masuk Bursa Calon Sekot 

Rabu, 15 Apr 2026 - 17:46 WIT