GardaMaluku.com; Dalam konteks politik lokal, basis sosial kerap menjadi fondasi yang menentukan arah dan daya tahan seorang aktor politik. Bukan semata soal dukungan elektoral, tetapi tentang bagaimana relasi dengan masyarakat dibangun, dirawat, dan diwujudkan dalam tindakan nyata. Dalam kerangka ini, sosok Rohalim Boy Sangadji atau RBS hadir sebagai figur yang menarik untuk dicermati dalam dinamika politik Maluku.
RBS tampil bukan melalui pendekatan konfrontatif atau retorika yang dominan, melainkan melalui langkah-langkah yang cenderung tenang dan berorientasi pada konsistensi. Di tengah kecenderungan sebagian aktor politik yang menonjolkan citra dan narasi besar, ia memilih jalur yang lebih sederhana: bekerja, mendengar, dan menyentuh langsung persoalan riil yang dihadapi masyarakat.
Karakter RBS dikenal tidak mudah teralihkan oleh isu-isu yang kurang substansial. Ia cenderung memilah mana persoalan yang benar-benar berdampak bagi masyarakat dan mana yang hanya bersifat sementara atau simbolik. Pendekatan ini membuat geraknya terasa tidak tergesa, namun tetap terarah dan konsisten.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam praktiknya, basis sosial yang dibangun RBS bertumpu pada kedekatan yang bersifat partisipatif. Ia tidak menempatkan diri sebagai aktor yang berjarak, tetapi hadir sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri. Relasi ini tidak lahir dari momentum politik sesaat, melainkan dari keterlibatan yang berulang dalam berbagai aktivitas sosial.
Keterlibatan tersebut terlihat dalam berbagai bentuk, mulai dari pendampingan komunitas, partisipasi dalam isu-isu lokal, hingga dorongan terhadap penguatan kapasitas generasi muda. Jika ditelusuri melalui berbagai pemberitaan media lokal di Maluku, aktivitas ini juga terkonfirmasi dalam sejumlah kegiatan konkret. RBS tercatat terlibat dalam kegiatan bakti sosial yang menyasar langsung kebutuhan masyarakat, serta mendorong ruang-ruang kebersamaan seperti kegiatan lintas komunitas yang memperkuat kohesi sosial.
Di sisi lain, melalui perannya dalam organisasi, RBS turut mendorong agenda yang lebih berorientasi jangka panjang. Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia, dukungan terhadap pendidikan, serta dorongan pemberdayaan ekonomi generasi muda menjadi bagian dari pendekatan sosial yang ia bangun secara bertahap.
Pola ini menunjukkan bahwa basis sosial yang dibentuk tidak bersifat instan, melainkan melalui proses yang berkelanjutan. Konsistensi aksi menjadi elemen utama yang memperkuat legitimasi sosial, sekaligus membedakan antara keterlibatan yang bersifat simbolik dengan yang benar-benar berakar.
Pendekatan yang ia bangun memperlihatkan bahwa politik tidak harus selalu tampil dalam wajah formal dan kaku. Politik dapat hadir dalam kerja-kerja kecil yang berdampak langsung: memperkuat solidaritas, membuka ruang partisipasi, dan mendorong perubahan dari bawah.
Dalam konteks Maluku sebagai wilayah kepulauan dengan kompleksitas geografis dan sosial yang berlapis, pendekatan berbasis kedekatan seperti ini memiliki relevansi tersendiri. Kehadiran aktor politik yang terhubung langsung dengan kehidupan masyarakat menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan dari proses pembangunan sosial itu sendiri.
Dari sisi pemikiran, RBS memperlihatkan kecenderungan yang relatif seimbang antara gagasan dan praktik. Ia tidak terjebak dalam idealisme yang jauh dari realitas, namun juga tidak larut dalam pragmatisme yang kehilangan arah. Upaya merawat jembatan antara visi dan tindakan inilah yang menjadi ciri dari pendekatan yang ia bangun.
Secara politis, konsistensi dalam membangun basis sosial ini memberi dampak yang perlahan namun signifikan. Tanpa harus tampil dalam pola yang konfrontatif, RBS mulai membangun posisi melalui penguatan relasi sosial yang senyap namun solid. Hal ini menunjukkan bahwa dalam politik lokal, kekuatan tidak selalu lahir dari mobilisasi besar, tetapi juga dari akumulasi kepercayaan yang tumbuh secara bertahap.
Pada akhirnya, apa yang ditunjukkan RBS mengarah pada satu pemahaman penting: bahwa politik dapat dijalankan melalui kerja-kerja yang dekat dengan masyarakat, dengan menempatkan konsistensi sebagai fondasi utama. Dalam kerangka ini, basis sosial bukan hanya menjadi alat, tetapi menjadi ruang di mana politik itu sendiri menemukan maknanya.
Jika pola ini terus dijaga, maka bukan hal yang berlebihan untuk melihat Rohalim Boy Sangadji sebagai salah satu representasi politisi muda yang bertumpu pada kerja sosial berkelanjutan, sekaligus berpotensi memberi warna penting dalam perkembangan politik lokal di Maluku ke depan.***
Penulis: Ar Rauf Latupeirissa| Voluntir Literasi Rumah Inspirasi.

















