Tanah, Tanaman dan Harapan Warga Lermatan

Di Bawah Bayang-Bayang LNG Inpex, 415 Kepala Keluarga Mempertaruhkan Nasib pada Sebatang Tanaman

- Redaksi

Rabu, 23 September 2026 - 14:12 WIT

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🤝 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Donasi

TANIMBAR, GARDA-MALUKU.COM, — Matahari belum terlalu tinggi di atas Lermatang ketika data itu digantung di dinding Balai Desa. Lembaran-lembaran kertas berisi nama, jenis tanaman, dan jumlahnya. Bagi banyak orang, itu cuma daftar. Tapi bagi warga Lermatang, itu adalah wajah dari masa depan mereka.

Dan ketika satu angka dianggap kurang, seluruh desa bergolak.

“Satu saja kurang, masyarakat sanggah.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kalimat itu keluar dari mulut Fredek Y. Kormpaulun, tokoh politik asal Lermatang, dalam konferensi pers di Saumlaki, Selasa (22/9/2026). Sederhana, tapi menusuk. Karena di balik kata “satu” itu, ada sejarah panjang, ada air mata, ada keringat, dan ada harapan yang digantungkan pada sebatang tanaman.

Tanah yang Bukan Sekadar Tanah
Orang Lermatang tidak pernah menganggap tanah sebagai benda mati. Tanah adalah ibu yang menumbuhkan. Tanah adalah bapak yang melindungi. Tanah adalah warisan yang diwariskan dari generasi ke generasi, jauh sebelum kata Inpex atau LNG pernah terdengar di Tanimbar.

Lebih dari 662 hektare tanah di Lermatang kini bersiap melepas statusnya. Tanah itu akan digunakan untuk pembangunan proyek LNG oleh Inpex. Sebuah proyek besar. Sebuah proyek strategis nasional. Tapi juga sebuah proyek yang menuntut pengorbanan.

“Tanah itu selama ini di atas 662 Ha merupakan harapan hidup masyarakat orang Lermatang yang sejak zaman dulu kala. Tanah ini telah menghasilkan orang-orang Lermatang yang berguna bagi bangsa dan negara. Saat ini tanah telah diserahkan kepada negara untuk dipergunakan demi kepentingan bangsa,” kata Fredek.

Dan kini, harapan itu akan dilepaskan. Untuk selamanya.

Ketika Warga Menggadaikan Diri
Ada kalimat yang membuat suasana konferensi pers itu terasa hening. Fredek mengatakannya dengan perlahan, hampir seperti doa.

“Hari ini masyarakat Lermatang menggadaikan diri, melepaskan seumur hidup tanah itu sekali untuk selamanya.”

Bayangkan. Satu-satunya mata pencaharian. Satu-satunya harapan. Satu-satunya masa depan yang mereka kenal. Semua itu dilepaskan dalam satu keputusan besar.

Bukan karena mereka ingin, tapi karena mereka percaya bahwa pembangunan akan membawa kebaikan. Mereka percaya pada janji. Mereka percaya pada negara. Mereka percaya pada masa depan.

Tapi kepercayaan itu tidak datang gratis. Ia dibayar dengan tanah, dengan tanaman, dengan kenangan, dan dengan masa depan yang belum tentu lebih baik.

Angka yang Menentukan Hidup 415 Keluarga
Di Lermatang, ada sekitar 415 kepala keluarga. Mereka adalah petani, pekebun, dan pencari hasil bumi.

Selama ini, mereka hidup dari tanah dan tanaman yang mereka rawat dengan tangan sendiri. Kelapa, sukun, mangga, umbi-umbian dan berbagai tanaman lain yang menjadi sumber penghidupan.

Ketika Tim Satgas Subjek dan Objek melakukan pendataan, setiap batang tanaman dicatat. Setiap nama pemilik ditulis. Setiap angka dihitung. Data itu kemudian dibawa ke Ambon, lalu digantung kembali di Balai Desa Lermatang dan di situlah masalah muncul.

Baca Juga :  Struktur kepengurusan Pemuda Katolik Komisariat Cabang Kepulauan Tanimbar Masa Bakti 2026-2029

Warga menemukan bahwa satu atau dua tanaman mereka tidak tercatat. Hanya satu. Hanya dua. Tapi bagi warga Lermatang, itu bukan kesalahan kecil. Itu adalah kehilangan yang nyata. Itu adalah pengurangan harapan.

“Satu saja kurang, masyarakat sanggah,” tegas Fredeck.

Sanggahan yang Bukan Sekadar Protes
Sanggahan warga Lermatang bukanlah protes kosong. Itu adalah suara hati orang-orang yang tahu bahwa tanah mereka akan hilang selamanya. Mereka tidak menuntut lebih. Mereka hanya menuntut apa yang memang milik mereka.

“Alasan masyarakat Lermatang sanggah adalah bahwa tanam tumbuh yang mereka tanam itu ada di lahan mereka. Satu saja kurang masyarakat sanggah,” jelas Fredeck.

Di balik sanggahan itu, ada kekhawatiran yang lebih dalam. Jika satu tanaman bisa hilang dari data, bagaimana dengan tanaman yang lain? Jika angka bisa dikurangi, bagaimana dengan keadilan? Jika penilaian tidak sesuai, bagaimana dengan masa depan 415 keluarga?

Harapan pada KJPP
Kini, semua mata tertuju pada Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP). Lembaga inilah yang akan menentukan nilai akhir dari tanah dan tanaman warga Lermatang. Dan Fredeck punya pesan yang sangat jelas.

“Harapan kami, ke depannya KJPP datang di Tanimbar dan hadir di Lermatang, mestinya datang dengan tim pendataan Subjek dan Objek. Karena yang lebih tahu soal kondisi lapangan adalah tim pendataan.”

Ia tidak meminta lebih. Ia hanya meminta agar penilaian berpijak pada kenyataan. Bahwa yang tahu kondisi lapangan adalah tim yang telah bekerja keras selama berbulan-bulan. Bahwa angka yang sudah didata adalah angka yang benar. Bahwa tidak ada satu pun tanaman yang boleh hilang.

“Kita berharap bahwa penilaian KJPP jangan lari jauh dari pada pendataan tim subjek dan objek,” pintanya.

Masyarakat Menuntut Keadilan
Masyarakat Lermatang kini bersuara lantang. Mereka tidak lagi diam. Mereka menuntut sebuah keadilan. Mereka meminta KJPP memberikan penilaian yang adil dan keberpihakan kepada masyarakat Lermatang.

“Harapan jangan sampai ada yang hilang dari hasil pendataan berbulan-bulan karena itu adalah isi hati masyarakat Lermatang,” tegas warga.

Setiap angka dalam daftar itu bukan sekadar catatan administratif. Itu adalah denyut nadi kehidupan. Itu adalah keringat yang menetes di tanah. Itu adalah mimpi yang ditanam bersama bibit-bibit pohon. Jika satu angka hilang, maka satu harapan pun ikut lenyap.

Peringatan yang Tidak Bisa Diabaikan
Ada nada khawatir dalam suara Fredeck ketika ia menyampaikan peringatan halusnya.

“Jika nanti KJPP turun dan apa yang diharapkan tidak sesuai dengan yang di orang Lermatang, saya takutkan ke depan bisa terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan bersama.”

Kalimat itu bukan ancaman. Itu adalah kekhawatiran seorang anak Lermatang yang tahu betapa besar harapan warga pada proses ini. Ia tahu bahwa kekecewaan bisa berubah menjadi kemarahan.

Ia tahu bahwa ketidakadilan bisa memicu konflik. Ia tahu bahwa satu angka yang salah bisa menghancurkan kepercayaan yang telah dibangun bertahun-tahun.

Baca Juga :  Fatlalon Digiring ke "Hotel Prodeo"

Permohonan Maaf dan Terima Kasih yang Tulus
Setelah berbulan-bulan tim Stagas Pendataan Subjek dan Objek menjalani tugas yang penuh liku, ucapan terima kasih pun mengalir dari Fredek Kormpaulun, seorang anak Lermatang yang turut menyaksikan perjuangan itu dari dekat.

Dengan tulus ia menyampaikan rasa hormat kepada Pak Jutam selaku koordinator tim, serta kepada seluruh ketua dan anggota tim 1, 2, 3, dan 4 yang tak sempat ia sebut satu per satu. Nama-nama mereka mungkin tak semuanya tertulis dalam laporan, tetapi jejak kerja mereka terukir dalam denyut kehidupan warga yang mereka datangi.

Namun, perjalanan pendataan itu tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya kesalahpahaman tumbuh, komunikasi tergores, dan rasa tidak nyaman menyelinap di antara warga dan tim. Menyadari hal itu, Fredek dengan rendah hati memohon maaf atas nama pribadi sebagai anak Lermatang.

“Bila selama pendataan berbulan-bulan di Lermatang ada kesalahan, kesalahpahaman, dan sesuatu yang tidak menyenangkan dari warga Lermatang dengan tim, mohon dimaafkan,” ujarnya.

Kalimat itu bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan kesadaran bahwa manusia tak pernah luput dari salah, dan bahwa di balik setiap ketegangan selalu ada harapan besar yang diperjuangkan. Di balik semua ketegangan, ada manusia-manusia yang bekerja dengan hati.

Ada tim yang telah berbulan-bulan hidup bersama warga, mendengar cerita mereka, mencatat tanaman mereka, dan memahami harapan mereka. Jika ada hal yang kurang berkenan, itu semua semata-mata karena keterbatasan manusiawi dan besarnya harapan warga Lermatang yang ingin segera terwujud.

Setiap kerja keras, setiap salah paham, dan setiap permintaan maaf adalah bagian dari ikhtiar besar untuk membawa Lermatang ke arah yang lebih baik. Terima kasih kepada Pak Jutam, kepada seluruh tim, dan kepada warga Lermatang yang telah membuka pintu, berbagi cerita, dan menyimpan harapan. Semoga apa yang telah dimulai ini menjadi warisan kebaikan bagi generasi yang akan datang.

Doa di Ujung Senja
Ketika konferensi pers itu berakhir, Fredeck menutup dengan harapan yang sederhana namun dalam.

“Semoga kurang lebih 415 kepala keluarga di Lermatang puas dan semuanya berjalan dengan baik, aman dan lancar.”

415 kepala keluarga. 415 cerita. 415 harapan. 415 masa depan yang digantungkan pada sebatang tanaman.

Di Lermatang, tanah mungkin akan berubah. Tanaman mungkin akan hilang. Tapi harapan tidak boleh ikut hilang. Dan selama masih ada suara yang berani menyanggah, selama itu pula keadilan masih punya kesempatan.

Karena di Lermatang, satu tanaman bukan sekadar angka. Satu tanaman adalah hidup. Satu tanaman adalah harapan. Dan satu tanaman yang kurang, adalah satu alasan untuk terus bersuara.

Lermatang belum selesai dengan angka dan selama angka itu belum adil, selama itu pula Lermatang akan terus bersuara.

 

Follow WhatsApp Channel gardamaluku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Anjangsana TNI di Gereja Paroki Olilit Barat,  RD. Pnosio: TNI Hadir, Warga Tanimbar Merasa Terlindungi
Fredek Kormpaulun: KJPP Jangan Datang Sendiri, Libatkan Tim Pendataan Subjek dan Objek
Danlanal Saumlaki dan Vikep KKT Duduk Semeja, Merajut Sinergi demi Tanimbar
LSM Altar: Rp1,12 M Mandriak, Rakyat Berhak Tahu!
Buntut Dugaan Korupsi UP3 KKT, LSM Altar Beri Ultimatum: Usut Sebelum 17 Agustus atau Geruduk Lapangan Mandrwiak
Ancaman Aksi Massa, Rencana Penjagaan Ketat Aparat di Perempatan Batalyon, Warga Lermatang Siap Turun Jalan
Dua Hari Jelang Ground Breaking, Persiapan Kian Matang: Pangdam dan Gubernur Beri Apresiasi
PLT Kepala SMKN 1 Kepulauan Tanimbar Diduga Langgar Aturan, Sejumlah Guru Minta Dinas Pendidikan Turun Tangan

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 14:12 WIT

Tanah, Tanaman dan Harapan Warga Lermatan

Rabu, 23 September 2026 - 13:33 WIT

Anjangsana TNI di Gereja Paroki Olilit Barat,  RD. Pnosio: TNI Hadir, Warga Tanimbar Merasa Terlindungi

Jumat, 18 September 2026 - 13:38 WIT

Danlanal Saumlaki dan Vikep KKT Duduk Semeja, Merajut Sinergi demi Tanimbar

Senin, 10 Agustus 2026 - 21:47 WIT

LSM Altar: Rp1,12 M Mandriak, Rakyat Berhak Tahu!

Kamis, 6 Agustus 2026 - 14:03 WIT

Buntut Dugaan Korupsi UP3 KKT, LSM Altar Beri Ultimatum: Usut Sebelum 17 Agustus atau Geruduk Lapangan Mandrwiak

Berita Terbaru

KEPULAUAN TANIMBAR

Tanah, Tanaman dan Harapan Warga Lermatan

Rabu, 23 Sep 2026 - 14:12 WIT

AMBON

PENTAS Jadi Fokus SMPN 6 Ambon

Rabu, 23 Sep 2026 - 13:31 WIT