Panas Terik dan Air Susah di Tanimbar, Jidon Kelmanutu: “Kita Mau Lari Kemana?”

- Redaksi

Kamis, 8 Oktober 2026 - 22:07 WIT

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🤝 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Donasi

Tanimbar, Trending-Maluku.com, – Anggota DPRD Kepulauan Tanimbar, Jidon Kelmanutu, melontarkan pertanyaan retoris yang menggugah kesadaran banyak pihak. Di tengah aksi demonstrasi Forum Save Hutan Yamdena yang berlangsung di gedung DPRD, Senin (28/9/2026), ia menyoroti kondisi Tanimbar yang kian hari kian terasa dampak perubahan iklimnya.

“Hari ini panas terik di Tanimbar, air susah, lalu kita mau lari kemana?” ujar Jidon di hadapan perwakilan pendemo, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan tokoh agama yang hadir dalam audiensi tersebut.

Bukan Sekadar Isu Hutan
Pernyataan Jidon ini menegaskan bahwa persoalan tata kelola hutan Yamdena oleh PT. KJB bukanlah sekadar isu lingkungan atau perizinan semata. Baginya, ini sudah menyentuh hajat hidup orang banyak, terutama akses terhadap air dan kenyamanan hidup warga Tanimbar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Panas yang menyengat dan kesulitan air yang dirasakan warga, menurut Jidon, adalah bukti nyata bahwa kerusakan lingkungan sudah berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari. Jika hutan terus tergerus, ia khawatir Tanimbar akan kehilangan sumber daya alam yang selama ini menjadi penopang kehidupan.

“Karena itu kita gerakan moral anak-anak Tanimbar untuk minta pemerintah pusat. Katong su setengah mati di Tanimbar,” tegasnya.

Gerakan Moral, Bukan Sekadar Demo
Jidon menegaskan bahwa aksi yang digelar Forum Save Hutan Yamdena merupakan gerakan moral yang lahir dari kesadaran kolektif masyarakat. Ia menyebut kehadiran dua Romo, yakni Romo Poli Sering dan Romo Thomas Ratuanak, sebagai “suara kenabian” yang memperkuat pesan moral dari aksi tersebut.

Baca Juga :  Kinerja Penyidik Satreskrim Polres Kepulauan Tanimbar Disorot

“Saya senang karena ada dua Romo di sini. Inilah suara-suara kenabian yang hari ini terdengar dan disampaikan kepada kita,” ujarnya.

Ingatkan Pentingnya Sory dan Luri
Dalam kesempatan itu, Jidon juga mengingatkan pentingnya menjaga kearifan lokal Tanimbar, Sory dan Luri, sebagai bingkai dalam setiap pengambilan keputusan menyangkut negeri dan rakyat.

“Kalau kita selama tidak ada dalam Sory dan Luri, saya pastikan bahwa ini semua akan terpecah tercerai berai. Saya pastikan itu,” tegasnya.

Ia menyayangkan dari 9 desa yang diundang, hanya sebagian yang hadir. Menurutnya, persatuan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci utama dalam memperjuangkan nasib hutan Yamdena dan masa depan Tanimbar.

Dukungan Fraksi PDIP
Atas nama Fraksi PDIP Perjuangan, Jidon menyatakan dukungan penuh terhadap aksi yang digelar masyarakat. Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya telah melaporkan kondisi terkini di Tanimbar kepada perwakilan Fraksi PDIP DPR RI dari Maluku, Mercy Barens.

“Tadi sementara saya duduk di sini, saya sudah laporkan kondisi yang terjadi mulai dari Kantor Bupati sampai DPRD kepada perwakilan kami Fraksi DPR RI, Perwakilan Maluku yaitu Mercy Barens. Mudah-mudahan hal ini bisa kita sama-sama boyong untuk disampaikan,” ungkapnya.

Desak Evaluasi, Minta Data Pelanggaran
Jidon juga memaparkan data bahwa kurang lebih 57 pengelola HPH se-Indonesia telah dicabut izinnya hingga 2026, dengan luas lahan terganggu sekitar 112 juta hektar. Data ini, menurutnya, menjadi pijakan kuat untuk mendesak evaluasi terhadap pengelolaan hutan di Yamdena.

Baca Juga :  Tanah, Tanaman dan Harapan Warga Lermatan

“Kalau hari ini kita sama-sama bersatu, saya sangat yakin, sebegini saja kenapa tidak bisa. Saya sangat yakin perusahaan salah, pasti angkat kaki, saya pastikan itu,” tandasnya.

Meski yakin dengan perjuangan ini, Jidon meminta masyarakat turut membantu dengan menyuplai data lapangan.

Ia menyebut pihaknya sering turun ke lapangan dan memiliki data lengkap, namun laporan dari masyarakat tetap dibutuhkan untuk memperkuat temuan pelanggaran.

“Kalau ada pelanggaran tidak menanam kembali, terkait CSR, atau pengrusakan lingkungan dengan penebangan di bantaran sungai, mesti dilaporkan. Karena itu pelanggaran-pelanggaran berat,” jelasnya.

Janji DPRD
DPRD Kepulauan Tanimbar berkomitmen akan segera menggelar rapat lanjutan untuk memberikan jawaban resmi atas aspirasi yang disampaikan masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dan Forum Save Hutan Yamdena.

“Dalam waktu yang tidak terlalu lama kita DPRD akan ada dalam rapat untuk lanjut dalam pembahasan ini supaya ada jawaban resmi juga, karena saudara-saudara kita yang datang jauh-jauh untuk menyampaikan aspirasi,” pungkas Jidon.

Pertanyaan “kita mau lari kemana?” dari Jidon Kelmanutu seolah menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan bukanlah persoalan yang bisa ditunda. Jika hutan rusak, air hilang, dan panas semakin menyengat, tidak ada tempat untuk berlari selain kembali menjaga negeri sendiri.

Follow WhatsApp Channel gardamaluku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Fraksi PDIP Dukung Aksi Save Hutan Yamdena, Jidon Kelmanutu, “Ini Gerakan Moral Anak Tanimbar”
Petrus Werembinan, “Pulau Kecil Tanimbar Menanggung Beban Lingkungan Terlalu Besar”
Ultrapetita dan Obscurum Libellum, Dua Asas yang Bikin Eksekusi Tanah Saumlaki Layak Ditangguhkan
FH UNLESA Kembali Luluskan Sarjana Hukum, Dekan Titip Pesan Integritas
Tanah, Tanaman dan Harapan Warga Lermatan
Anjangsana TNI di Gereja Paroki Olilit Barat,  RD. Pnosio: TNI Hadir, Warga Tanimbar Merasa Terlindungi
Fredek Kormpaulun: KJPP Jangan Datang Sendiri, Libatkan Tim Pendataan Subjek dan Objek
Danlanal Saumlaki dan Vikep KKT Duduk Semeja, Merajut Sinergi demi Tanimbar

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 22:07 WIT

Panas Terik dan Air Susah di Tanimbar, Jidon Kelmanutu: “Kita Mau Lari Kemana?”

Kamis, 8 Oktober 2026 - 12:47 WIT

Fraksi PDIP Dukung Aksi Save Hutan Yamdena, Jidon Kelmanutu, “Ini Gerakan Moral Anak Tanimbar”

Kamis, 8 Oktober 2026 - 00:13 WIT

Petrus Werembinan, “Pulau Kecil Tanimbar Menanggung Beban Lingkungan Terlalu Besar”

Jumat, 2 Oktober 2026 - 12:38 WIT

Ultrapetita dan Obscurum Libellum, Dua Asas yang Bikin Eksekusi Tanah Saumlaki Layak Ditangguhkan

Kamis, 24 September 2026 - 02:18 WIT

FH UNLESA Kembali Luluskan Sarjana Hukum, Dekan Titip Pesan Integritas

Berita Terbaru