Groundbreaking Blok Masela 15 JULI 2026: TITIK BALIK SEJARAH KEBANGKITAN EKONOMI TANIMBAR

- Redaksi

Minggu, 5 Juli 2026 - 18:30 WIT

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🤝 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Donasi

SAUMLAKI – Garda-Maluku.com, – Rencana pelaksanaan peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek strategis nasional Blok Masela pada 15 Juli 2026 disambut dukungan penuh sekaligus pengawalan ketat dari Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA‑GMNI) Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Bagi organisasi ini, momen bersejarah itu bukan sekadar seremonial, melainkan titik balik perjuangan satu generasi agar wilayah perbatasan timur Indonesia bangkit dari keterbelakangan.

Sudah sepuluh tahun lamanya masyarakat Tanimbar menanti kepastian pembangunan. Selama kurun waktu itu, potensi raksasa cadangan gas alam mencapai 10,73 TCF di Laut Arafura kerap hanya menjadi wacana di meja keputusan ibu kota.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di sisi lain, kemiskinan berlangsung turun‑temurun, pengangguran terdidik menumpuk, serta keterbatasan sarana dasar masih menjadi beban warga mulai dari Yamdena, Selaru, Seira, Fordata, hingga pulau‑pulau terluar.

Dalam pernyataan sikap resminya yang bertajuk “Manifesto Kebangkitan Ekonomi Tanimbar”, Ketua PA‑GMNI Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Jaflaun Batlayeri, menegaskan dukungan yang diberikan bersifat kritis, penuh pertimbangan, dan tidak buta.

Baca Juga :  Perkara Korupsi PT. Tanimbar Energi Semakin Menghangat 

“Kami mendukung penuh pelaksanaan groundbreaking Blok Masela pada tanggal 15 Juli 2026. Tidak ada lagi ruang untuk penundaan. Bagi kami, ini adalah soal kedaulatan negara. Ketika kita menunda pembangunan di perbatasan, sama saja kita mengosongkan wilayah sendiri,” tegas Jaflaun di Saumlaki, April 2026.

Menurutnya, nilai investasi mencapai 20 Miliar Dolar AS hanya akan bermakna jika benar‑benar berpihak pada rakyat kecil atau kaum marhaen: nelayan, ibu rumah tangga, petani, hingga para sarjana lokal yang terpaksa merantau karena tak ada kesempatan kerja di kampung halaman.

Dukungan Disertai Tuntutan Kerakyatan

Bersamaan dukungan tersebut, PA‑GMNI melayangkan sejumlah tuntutan utama yang tidak dapat ditawar, antara lain:

Tenaga kerja lokal dan putra daerah Maluku menjadi prioritas mutlak lengkap pelatihan keterampilan;
Pengusaha lokal dilibatkan penuh dalam seluruh mata rantai pasokan proyek;

Pengelolaan dana bagi hasil migas yang transparan dan dialokasikan nyata untuk pendidikan, kesehatan, infrastruktur, serta pemberdayaan ekonomi rakyat;

Pembangunan pelabuhan, jalan antar pulau, kelistrikan 24 jam, dan air bersih berjalan beriringan dengan proyek;

Baca Juga :  Kinerja Penyidik Satreskrim Polres Kepulauan Tanimbar Disorot

Penghormatan penuh terhadap adat istiadat Duan Lolat serta keterlibatan Dewan Adat;

Jaminan perlindungan lingkungan hidup dan pemulihan pasca‑pembangunan;

Pemberian beasiswa pendidikan khusus bidang energi dan kelautan bagi pemuda Tanimbar;

Keterbukaan informasi serta penyediaan posko pengaduan masyarakat yang berfungsi nyata.

Ajakan Bersatu 

Organisasi ini juga menyerukan seluruh elemen masyarakat untuk bersatu padu mengawal proses pembangunan.

Kepada pemuda, tokoh adat, agama, pelaku usaha, hingga pemerintah daerah, ditekankan agar menjadikan proyek ini milik rakyat, bukan sekadar milik perusahaan semata.

“Tanggal 15 Juli 2026 adalah hari di mana Tanimbar berhenti memohon dan mulai menuntut haknya. Hari di mana kita buktikan anak Timur mampu menjadi tuan di tanah sendiri,” tambah Jaflaun.

PA‑GMNI menekankan bahwa kondusivitas pembangunan tidak diartikan sebagai kebisuan, melainkan keberanian mengawal agar proyek berjalan bersih, adil, dan membawa kesejahteraan abadi bagi seluruh warga Kepulauan Tanimbar serta memperkokoh kedaulatan energi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Follow WhatsApp Channel gardamaluku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Fraksi PDIP Dukung Aksi Save Hutan Yamdena, Jidon Kelmanutu, “Ini Gerakan Moral Anak Tanimbar”
Petrus Werembinan, “Pulau Kecil Tanimbar Menanggung Beban Lingkungan Terlalu Besar”
Ultrapetita dan Obscurum Libellum, Dua Asas yang Bikin Eksekusi Tanah Saumlaki Layak Ditangguhkan
FH UNLESA Kembali Luluskan Sarjana Hukum, Dekan Titip Pesan Integritas
Tanah, Tanaman dan Harapan Warga Lermatan
Anjangsana TNI di Gereja Paroki Olilit Barat,  RD. Pnosio: TNI Hadir, Warga Tanimbar Merasa Terlindungi
Fredek Kormpaulun: KJPP Jangan Datang Sendiri, Libatkan Tim Pendataan Subjek dan Objek
Danlanal Saumlaki dan Vikep KKT Duduk Semeja, Merajut Sinergi demi Tanimbar

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 12:47 WIT

Fraksi PDIP Dukung Aksi Save Hutan Yamdena, Jidon Kelmanutu, “Ini Gerakan Moral Anak Tanimbar”

Kamis, 8 Oktober 2026 - 00:13 WIT

Petrus Werembinan, “Pulau Kecil Tanimbar Menanggung Beban Lingkungan Terlalu Besar”

Jumat, 2 Oktober 2026 - 12:38 WIT

Ultrapetita dan Obscurum Libellum, Dua Asas yang Bikin Eksekusi Tanah Saumlaki Layak Ditangguhkan

Kamis, 24 September 2026 - 02:18 WIT

FH UNLESA Kembali Luluskan Sarjana Hukum, Dekan Titip Pesan Integritas

Rabu, 23 September 2026 - 14:12 WIT

Tanah, Tanaman dan Harapan Warga Lermatan

Berita Terbaru

Opini

Maluku Jangan Hanya Menjadi Penonton di Negeri Sendiri

Kamis, 8 Okt 2026 - 10:08 WIT