Pertobatan Ekologis di Bumi Duan Lolat: LKLM, Pemuda Katolik, dan ISKA Tanimbar Tanam Harapan di Sumber Air Bomaki

- Redaksi

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 21:37 WIT

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🤝 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Donasi

♫

Dengarkan BeritaAudio berita: Pertobatan Ekologis di Bumi Duan Lolat: LKLM, Pemuda Katolik, dan ISKA Tanimbar Tanam Harapan di Sumber Air Bomaki

0:000:00
⇩ Download

TANIMBAR, Garda-Maluku.com, — Sebuah pemandangan berbeda tersaji di kawasan Pusat Air Desa Bomaki, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Sabtu sore (10/10/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Alih-alih hanya menjadi lokasi upacara seremonial, kawasan sumber air yang selama ini menghidupi warga desa itu berubah menjadi altar pertobatan ekologis.

Di sanalah Lembaga Kalesang Lingkungan Maluku (LKLM) bersama Pemuda Katolik Komcab Kepulauan Tanimbar dan DPC Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) Kepulauan Tanimbar menancapkan bibit-bibit pohon sebagai simbol harapan bagi masa depan Bumi Duan Lolat.

Aksi penanaman pohon ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Apel Akbar 10.000 Kader Pemuda Katolik Maluku Tahun 2026, sekaligus penanda dimulainya Program Kalesang Alam Tanimbar, Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan Berbasis Masyarakat untuk Memperkuat Ketahanan Ekologi dan Ekonomi Masyarakat Lokal di Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Bukan Sekadar Agenda Organisasi, tapi Panggilan Iman
Sambutan Vicaris Episcopal Keuskupan Kepulauan Tanimbar (KKT), RD Ponsio Ongirwalu, membuka kegiatan dengan nada reflektif. Ia menegaskan bahwa kehadiran para peserta di area sumber air Bomaki bukanlah sekadar memenuhi undangan seremonial, melainkan menjawab panggilan iman yang mendasar, menjadi penjaga dan penyayang ciptaan Allah.

“Ibu bumi, tempat kita berpijak di bumi Tanimbar yang kita cintai ini, adalah rahmat yang luar biasa dari Tuhan. Mata air yang mengalir di tempat ini telah menghidupi anak-cucu kita dari generasi ke generasi. Namun, kita tahu bahwa bumi sedang menjerit,” ujarnya.

RD Ponsio mengutip Ensiklik Laudato Si’ Paus Fransiskus yang mengingatkan bahwa bumi adalah rumah kita bersama. Menurutnya, merawat bumi bukan sekadar tindakan sosial atau aksi lingkungan, melainkan bentuk pertobatan ekologis, sebuah tanggung jawab iman Katolik yang nyata.

Ia pun memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada LKLM, Pemuda Katolik, ISKA, dan Legio Christi yang telah menunjukkan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati.

Keterlibatan orang muda dan kaum awam cendekiawan dinilainya sebagai bukti bahwa iman Katolik itu hidup, bergerak, dan membawa dampak nyata bagi masyarakat Tanimbar.

Baca Juga :  JPU Tidak Bisa Buktikan Aliran Dana ke Fatlalon Cs 

“Setiap bibit pohon yang kita tanam hari ini di kawasan sumber air Bomaki adalah simbol harapan. Kita sedang menanam kehidupan, menjaga ketersediaan air bersih, serta memperkuat ketahanan ekologi dan ekonomi masyarakat Tanimbar ke depan,” tambahnya.

Kalesang, Filosofi Hidup yang Sejalan dengan Ajaran Gereja
Sementara itu, Bupati Kepulauan Tanimbar dalam sambutannya yang dibacakan oleh Benyamin Samangun,  Staf Ahli Bidang Hukum Politik dan Pemerintahan pada kesempatan yang sama menyoroti makna kata Kalesang yang jauh lebih dalam dari sekadar istilah bahasa Maluku.

“Kalesang adalah sebuah filosofi hidup yang merawat dengan kasih sayang, menjaga dengan penuh tanggung jawab, dan memelihara dengan kesadaran penuh. Ketika berbicara tentang Kalesang Alam Tanimbar, maka kita berbicara tentang bagaimana memperlakukan tanah, air, hutan, dan seluruh kekayaan alam di kepulauan ini sebagai titipan Tuhan yang suci, bukan sebagai komoditas yang bisa dieksploitasi tanpa batas,” tegasnya.

Bupati mengingatkan bahwa perubahan iklim global, ancaman abrasi pantai, penurunan kualitas tanah, hingga ancaman krisis air bersih di beberapa wilayah merupakan alarm keras bagi semua pihak.

Karakteristik Kepulauan Tanimbar sebagai wilayah pulau-pulau kecil, lanjutnya, membuat daerah ini sangat rentan terhadap perubahan ekosistem.

“Jika hutan kita gundul, jika pohon-pohon kita habis ditebang tanpa ada upaya penanaman kembali, maka pulau ini akan kehilangan daya dukungnya. Dampaknya tidak hanya akan dirasakan oleh kita yang ada di lapangan ini, tetapi akan menjadi penderitaan bagi anak-cucu di masa yang akan datang,” ujarnya.

Tiga Arahan Penting Bupati
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Kepulauan Tanimbar menyampaikan tiga arahan penting.

Pertama, kepada LKLM, Pemuda Katolik, dan ISKA Tanimbar, ia berharap kemitraan strategis dengan Pemerintah Daerah tidak berhenti sampai di sini. Ia meminta agar dirancang program pemantauan pasca-tanam, dan menjadikan wilayah penanaman sebagai laboratorium hijau binaan.

Kedua, kepada para Kepala Desa dan Tokoh Adat, ia menginstruksikan agar menyambut baik gerakan ini, menjaga pohon-pohon yang telah ditanam, serta menghidupkan kembali kearifan lokal yang mengatur perlindungan hutan dan sumber air, lalu memadukannya dengan konsep sains modern yang dibawa oleh rekan-rekan Sarjana Katolik.

Baca Juga :  Tanah, Tanaman dan Harapan Warga Lermatan

Ketiga, kepada instansi terkait, ia meminta agar kegiatan ini tidak berhenti menjadi kegiatan satu hari saja. Pemantauan dan evaluasi berkala harus dilakukan untuk memastikan tingkat kelangsungan hidup bibit-bibit yang ditanam tinggi, disertai pendampingan kepada masyarakat tentang cara merawat pohon yang benar.

“Setiap bibit pohon yang ditancapkan ke dalam tanah hari ini adalah simbol harapan dan wujud nyata dari iman yang hidup. Iman tanpa perbuatan adalah mati, dan hari ini kita semua menyatakan iman kita melalui perbuatan nyata menjaga ciptaan Tuhan,” pungkasnya.

Mengembalikan Hak dan Peran Masyarakat atas Alam
Melalui Program Kalesang Alam Tanimbar, LKLM bersama mitra-mitranya mendorong pengembalian hak, peran, dan tanggung jawab pengelolaan alam kepada masyarakat.

Pohon-pohon yang ditanam hari ini diharapkan menjadi saksi sejarah bahwa pemuda pernah menanam kehidupan di tempat ini, dan masyarakatlah yang nantinya memelihara, memastikannya tumbuh besar, serta menikmati dampak positifnya: mulai dari ketersediaan air yang melimpah, udara yang bersih, hingga potensi ekonomi berbasis kehutanan dan ekowisata.

“Mari menjadi kader-kader yang tangguh, kader yang tidak hanya berwacana di ruang seminar, tetapi kader yang tangannya kotor oleh tanah demi hijaunya bumi ciptaan Tuhan,” ajak Bupati menutup sambutannya.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 10.30 WIT ini turut dihadiri oleh Pimpinan dan Anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Tanimbar; Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kabupaten Kepulauan Tanimbar; Pejabat Struktural di Lingkup Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar; Camat dan Forkopimca Kecamatan Tanimbar Selatan; Ketua dan Pengurus Lembaga Kalesang Lingkungan Maluku; Ketua dan Anggota Pemuda Katolik Komcab Kepulauan Tanimbar; Ketua dan Anggota ISKA Kabupaten Kepulauan Tanimbar; Kepala Desa dan Perangkat Desa Bomaki; serta para Ketua Organisasi Kepemudaan.

Aksi ini menjadi penegasan bahwa di Bumi Duan Lolat, iman tidak berhenti di ruang doa, ia turun ke tanah, meresap ke akar, dan bertumbuh menjadi harapan bagi generasi yang akan datang.

“Terpujilah Engkau, ya Tuhan!” seruan Laudato Si’ yang menggema di tepian sumber air Bomaki, menjadi doa sekaligus komitmen untuk terus kalesang bumi Tanimbar.

Follow WhatsApp Channel gardamaluku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Panas Terik dan Air Susah di Tanimbar, Jidon Kelmanutu: “Kita Mau Lari Kemana?”
Fraksi PDIP Dukung Aksi Save Hutan Yamdena, Jidon Kelmanutu, “Ini Gerakan Moral Anak Tanimbar”
Petrus Werembinan, “Pulau Kecil Tanimbar Menanggung Beban Lingkungan Terlalu Besar”
Ultrapetita dan Obscurum Libellum, Dua Asas yang Bikin Eksekusi Tanah Saumlaki Layak Ditangguhkan
FH UNLESA Kembali Luluskan Sarjana Hukum, Dekan Titip Pesan Integritas
Tanah, Tanaman dan Harapan Warga Lermatan
Anjangsana TNI di Gereja Paroki Olilit Barat,  RD. Pnosio: TNI Hadir, Warga Tanimbar Merasa Terlindungi
Fredek Kormpaulun: KJPP Jangan Datang Sendiri, Libatkan Tim Pendataan Subjek dan Objek

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 21:37 WIT

Pertobatan Ekologis di Bumi Duan Lolat: LKLM, Pemuda Katolik, dan ISKA Tanimbar Tanam Harapan di Sumber Air Bomaki

Kamis, 8 Oktober 2026 - 22:07 WIT

Panas Terik dan Air Susah di Tanimbar, Jidon Kelmanutu: “Kita Mau Lari Kemana?”

Kamis, 8 Oktober 2026 - 12:47 WIT

Fraksi PDIP Dukung Aksi Save Hutan Yamdena, Jidon Kelmanutu, “Ini Gerakan Moral Anak Tanimbar”

Kamis, 8 Oktober 2026 - 00:13 WIT

Petrus Werembinan, “Pulau Kecil Tanimbar Menanggung Beban Lingkungan Terlalu Besar”

Jumat, 2 Oktober 2026 - 12:38 WIT

Ultrapetita dan Obscurum Libellum, Dua Asas yang Bikin Eksekusi Tanah Saumlaki Layak Ditangguhkan

Berita Terbaru

Opini

Anak Petani dan Papalele Itu Kini Menjadi Wali Kota Ambon

Sabtu, 10 Okt 2026 - 13:07 WIT