GardaMaluku.com, Ambon : “Tau tanam, Tau Rawat” merupakan frasa dalam bahasa melayu dan juga sering digunakan dalam bahasa lokal daerah di Kota Ambon untuk menjaga suatu yang sedang dipelihara atau di jaga, diiringi komitmen sampai tumbuh dan membawakan hasil.
Tanaman Gadihu merupakan tanaman lokal atau tanaman hias berdaun indah yang sering dipakai untuk penghijauan.
Dalam rangka Semarak Kota Ambon, Pemerintah kota Ambon serta jajaran lainnya pada 24 Juli 2026 lalu melakukan Aksi Gerakan Tanam Gadihu (Gertag), dengan menanam 5.000 tanaman Gadihu di Kota Ambon.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ada beberapa titik yang melangsungkan aksi penanaman tanaman Gadihu pada waktu itu, yakni Taman Kota, Lapangan Merdeka, Pattimura Park, kawasan plaza, Air Salobar, Transit Passo, dan Ambon City Of Music – Hatiwe Besar.
Namun rata-rata tanaman tersebut mati kering karena tidak ada yang merawat. akibat cuaca yang panas mengakibatkan layu dan mati. Hal ini menurut pantauan media ini di Transit Passo, Ambon.
Ditargetkan area publik dapat terlihat hijau dan cantik, justru malah sebaliknya.
Seperti yang terjadi di khawasan transit Passo, kecamatan baguala, Ambon. Menurut pantauan media ini, ketika melewati khawasan tersebut, pada titik penanaman Gadihu semuanya terlihat kering dan membuat tidak enak di pandang.
Sepanjang jalan tersebut semua mata yang melintah disuguhkan dengan pandangan tanaman mati akibat paparan sinar matahari.
Pekan lalu Walikota Ambon, Bodewin Wattimena berharap agar seluruh pohon yang ditanam dan dapat dipelihara bersama entah itu dari Pemkot melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan (DLHP), tetapi juga masyarakat.
Pencapaian Ambon hijau, bersih, asri dan nyaman, berubah menjadi tanaman layu yang tidak enak di pandang sepanjang jalan. Keinginan warna-warni setiap jalan pun di ubah menjadi coklat keemasan. (*)


















