- Oleh: Tri Santi Kurnia (Dosen UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon; Mahasiswa S3 Biologi Universitas Gadjah Mada)

GardaMaluku.com: Saat ini, di tengah upaya pemerintah mendorong pembangunan ekonomi biru, perhatian terhadap potensi sumber daya laut Indonesia seharusnya tidak hanya terfokus pada perikanan tangkap, pariwisata bahari, atau industri skala besar. Ada satu kekuatan penting yang sering terabaikan, yaitu kearifan lokal masyarakat pesisir dalam memanfaatkan sumber daya laut secara berkelanjutan.
Kearifan lokal tersebut hidup dan diwariskan turun-temurun sebagai bentuk adaptasi manusia terhadap alam. Salah satu contoh nyata dapat ditemukan di Kepualuan Maluku Barat Daya (MBD) melalui pemanfaatan alga hijau Dictyosphaeria versluysii yang dikenal masyarakat tersebut dengan sebutan “silpau” atau “karang muda”.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi masyarakat MBD, laut merupakan salah satu sumber kehidupan yang menentukan keberlangsungan pangan keluarga. Namun, kondisi laut tidak selalu bersahabat.
Pada musim tertentu, angin kencang, gelombang tinggi, dan cuaca buruk membuat nelayan tidak dapat melaut selama berhari-hari. Situasi ini tentu berdampak langsung pada ketersediaan ikan sebagai sumber protein utama masyarakat pesisir di sana.
Meskipun demikian, masyarakat lokal di sana mampu mengatasi situasi tersebut, karena mereka memiliki cara bertahan hidup yang lahir dari pengalaman panjang hidup berdampingan dengan laut.
Mereka memanfaatkan alga hijau Dictyosphaeria versluysii yang tumbuh alami di perairan dangkal dan menempel pada permukaan karang yang masih terkena sinar matahari. Alga ini dapat diperoleh tanpa harus melaut jauh sehingga menjadi alternatif pangan ketika hasil tangkapan ikan sulit di dapatkan.
Menariknya, pemanfaatan Dictyosphaeria versluysii dilakukan dengan cara yang sangat sederhana. Masyarakat biasanya mengonsumsinya secara langsung atau menjadikannya pelengkap makanan sehari-hari.
Kesederhanaan ini justru membuktikan bahwa masyarakat pesisir memiliki pengetahuan ekologis yang kuat. Mereka memahami kapan sumber daya tertentu dapat dimanfaatakan dan bagaimana alam menyediakan alternatif pangan dalam situasi sulit.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa konsep ketahanan pangan sebenarnya telah lama dipraktikkan oleh masyarakat lokal melalui kearifan tradisional. Mereka tidak terpaku pada satu jenis sumber pangan saja, melainkan memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan kondisi alam. Pengetahuan seperti ini sangat penting di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata dan berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat pesisir.
Sayangnya, pengetahuan lokal sering dipandang sebagai sesuatu yang kuno dan tertinggal. Modernisasi Pembangunan cenderung mengutamakan pendekatan industrial dan mengabaikan paraktik-praktik tradisional masyarakat.
Padahal, banyak negara maju telah mengembangkan pangan berbasis alga sebagai bagian dari industri masa depan. Alga dimanfaatkan sebagai bahan pangan sehat, kosmetik, obat-obatan, hingga bahan baku industri ramah lingkungan dengan nilai ekonomi yang tinggi.
Indonesia sebagai negara maritim terbesar seharusnya mampu melihat potensi besar tersebut. Dictyosphaeria versluysii bukan hanya sumber pangan alternatif masyarakat pesisir, tetapi juga memiliki peluang dan potensi untuk dikembangkan sebagai komoditas ekonomi biru berbasis kearifan lokal.
Alga lokal ini dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang mampu membuka peluang usaha baru bagi masyarakat pesisir, jika dikelola melalui riset, inovasi teknologi, dan dukungan kebijakan yang tepat.
Pengembangan ekonomi biru berbasis kearifan lokal juga akan memberikan manfaat yang lebih luas. Selain meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pendekatan ini dapat menjaga keberlanjutan ekosistem laut karena pemanfaatannya dilakukan dengan memahami keseimbangan alam.
Dengan demikian, Pembangunan ekonomi tidak hanya mengejar keuntungan jangka pendek, tetapi turut menjaga kelestarian sumber daya secara berkelanjutan.
Oleh sebab itu, pemerintah, akademisi, dan pelaku industri perlu untuk mulai memberi perhatian terhadap potensi sumber daya lokal seperti Dictyosphaeria versluysii.
Hilirisasi sumber daya laut sudah seharusnya tidak hanya berorientasi pada komoditas besar, tetapi juga pada kekayaan hayati lokal yang selama ini hidup bersama masyarakat pesisir. Langkah ini akan menjadi bentuk nyata penghargaan terhadap warisan leluhur sekaligus strategi memperkuat ketahanan pangan nasional.***


















