REFLEKSI SUMPAH PEMUDA KE-98

Pemuda Tanimbar di Persimpangan Jalan Duan Lolat: Terhimpit Janji, Teruji Realitas

- Redaksi

Rabu, 28 Oktober 2026 - 19:52 WIT

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🤝 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Donasi

“Pemuda bukan sekadar pewaris masa depan, melainkan suara nurani yang berani mengingatkan ketika arah perjalanan negeri mulai menyimpang”

Oleh : Alex Belay

SAUMLAKI, GardaMaluku.com – Sembilan puluh delapan tahun telah berlalu sejak para pemuda Indonesia mengikrarkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Sebuah ikrar yang lahir dari keberanian untuk menanggalkan sekat-sekat perbedaan, menyatukan tekad, dan menempatkan masa depan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hari ini, ketika kita kembali memperingati Sumpah Pemuda, sebuah pertanyaan patut diajukan kepada diri kita sendiri: apakah semangat persatuan itu masih hidup dalam tindakan, atau perlahan-lahan hanya menjadi kalimat indah yang diulang setiap tahun di atas panggung seremonial?

Di Kepulauan Tanimbar, pertanyaan itu menemukan maknanya sendiri.

Di bawah kibaran Merah Putih, di antara pidato kebangsaan dan upacara penghormatan, ada realitas generasi muda yang menuntut perhatian. Ada pemuda yang berjuang mencari pekerjaan, berusaha membangun masa depan, memperjuangkan kesempatan, dan berharap agar tanah kelahirannya tidak sekadar menjadi tempat mereka dilahirkan, tetapi juga tempat mereka dapat tumbuh dan mengembangkan potensi.

Namun, di tengah harapan itu, sebagian pemuda merasa berdiri di persimpangan jalan: antara janji yang terus terdengar dan kenyataan yang belum sepenuhnya menjawab kebutuhan mereka.

Mereka tidak kehilangan cinta terhadap Tanimbar. Justru karena kecintaan itulah mereka terus bertanya, mengkritik, dan menagih tanggung jawab.

Ketika Pemuda Merasa Asing di Rumah Sendiri

Tanimbar bukan sekadar gugusan pulau di tepian Indonesia. Ia adalah tanah leluhur, tempat nilai-nilai adat diwariskan, identitas dibentuk, dan persaudaraan dipelihara dari generasi ke generasi.

Di tanah ini, falsafah Duan Lolat menjadi salah satu fondasi penting kehidupan masyarakat. Ia mengajarkan tentang hubungan, penghormatan, tanggung jawab, dan ikatan persaudaraan yang tidak boleh diputus oleh kepentingan sesaat.

Namun, sebuah ironi muncul ketika sebagian generasi muda justru merasa tidak memiliki ruang yang cukup untuk mengambil bagian dalam pembangunan negerinya sendiri.

Mereka menyaksikan pembangunan berjalan, kebijakan dirumuskan, dan berbagai janji disampaikan. Tetapi pertanyaan yang terus menggantung adalah: sejauh mana pemuda benar-benar dilibatkan? Seberapa luas kesempatan dibuka bagi mereka? Dan apakah masa depan Tanimbar sedang dibangun bersama seluruh generasinya, atau hanya oleh mereka yang memiliki akses lebih dekat kepada pusat kekuasaan?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak boleh dijawab dengan kemarahan. Ia harus dijawab dengan keterbukaan, keberanian melakukan evaluasi, dan kesediaan memperbaiki keadaan.

Sebab, tidak ada pembangunan yang benar-benar berhasil apabila generasi penerusnya hanya ditempatkan sebagai penonton.

Bapak dan Mama: Sebuah Tanggung Jawab, Bukan Sekadar Sebutan

Kita sering mendengar pemimpin daerah menyebut dirinya sebagai Bapak dan Mama bagi masyarakat Tanimbar. Sebuah ungkapan yang semestinya mengandung makna pengayoman, kasih sayang, perlindungan, dan tanggung jawab terhadap seluruh anak negeri.

Tetapi menjadi Bapak dan Mama bukan hanya perkara menyampaikan kata-kata yang menyejukkan. Ia adalah tanggung jawab untuk memastikan bahwa tidak ada anak yang merasa ditinggalkan, tidak ada kelompok yang kehilangan kesempatan hanya karena berbeda pandangan, dan tidak ada generasi yang harus berjuang sendirian menghadapi masa depannya.

Kepemimpinan diuji bukan ketika semua orang memberikan pujian, melainkan ketika kritik datang dari mereka yang berharap keadaan menjadi lebih baik.

Baca Juga :  Sah, Rekomendasi PKB Jatuh ke Tangan Murad-Michael

Pemerintah yang sungguh-sungguh mengayomi tidak perlu takut terhadap pertanyaan. Pemimpin yang percaya pada kebenaran kebijakannya tidak seharusnya merasa terancam oleh perbedaan pendapat.

Justru di situlah kualitas kepemimpinan terlihat: apakah kekuasaan digunakan untuk merangkul seluruh masyarakat, atau tanpa disadari hanya memberi ruang lebih luas kepada kelompok-kelompok tertentu?

Pemuda Tanimbar tidak sedang meminta perlakuan istimewa. Mereka menuntut kesempatan yang adil, ruang partisipasi yang terbuka, dan kebijakan yang tidak berhenti sebagai janji.

Mereka ingin dipercaya sebagai bagian dari solusi, bukan terus-menerus dipandang sebagai generasi yang belum layak didengar.

Kritik Bukan Kebencian, Diam Bukan Selalu Kesetiaan

Salah satu ujian terbesar demokrasi adalah bagaimana kekuasaan memperlakukan suara yang berbeda.

Ketika pemuda mengkritik kebijakan pemerintah, mempertanyakan janji yang belum terwujud, atau menyuarakan ketidakpuasan terhadap persoalan publik, apakah mereka masih dipandang sebagai anak negeri yang mencintai tanah kelahirannya?

Ataukah kritik itu justru dianggap sebagai perlawanan, permusuhan, bahkan ancaman terhadap kekuasaan?

Kita perlu memahami satu hal: tidak semua kritik lahir dari kebencian, sebagaimana tidak semua pujian lahir dari ketulusan.

Ada kritik yang tumbuh dari kegelisahan. Ada keberanian berbicara yang lahir karena seseorang tidak ingin melihat negerinya berjalan ke arah yang keliru. Ada suara keras yang sesungguhnya menyimpan harapan agar pemerintah memperbaiki kebijakan dan memenuhi tanggung jawabnya.

Karena itu, pemuda yang mengkritik pemerintah tidak serta-merta menjadi musuh pemerintah.

Sebaliknya, kesediaan mendengar kritik merupakan tanda bahwa demokrasi masih memiliki ruang untuk bernapas.

Pemuda pun harus memahami bahwa keberanian berbicara mesti berjalan bersama tanggung jawab moral. Kritik harus berpijak pada fakta, disampaikan secara bertanggung jawab, dan diarahkan untuk memperbaiki keadaan, bukan sekadar menjatuhkan seseorang.

Namun, satu hal harus tetap ditegaskan: mencintai negeri tidak berarti wajib menyetujui semua keputusan pemimpinnya. Terkadang, bentuk cinta yang paling jujur justru keberanian untuk mengatakan bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.

Duan Lolat: Persaudaraan yang Sedang Diuji

Duan Lolat bukan sekadar warisan tutur adat. Ia merupakan bagian dari identitas kultural masyarakat Tanimbar yang harus dijaga makna dan kehormatannya.

Tetapi nilai budaya tidak cukup hanya disebut dalam pidato, dihadirkan dalam upacara adat, atau dijadikan simbol kebanggaan. Nilai itu harus hidup dalam perilaku, keputusan, dan cara kita memperlakukan sesama.

Jika persaudaraan benar-benar menjadi fondasi kehidupan bersama, maka perbedaan pilihan politik tidak boleh memutus hubungan kemanusiaan. Jika penghormatan menjadi nilai yang dijunjung tinggi, maka suara anak muda tidak boleh diabaikan hanya karena mereka mempertanyakan kebijakan. Jika kekeluargaan menjadi dasar kehidupan bermasyarakat, maka kepentingan umum harus ditempatkan di atas kepentingan kelompok.

Duan Lolat seharusnya menyatukan, bukan membatasi. Merangkul, bukan mengucilkan. Menjadi jembatan bagi perbedaan, bukan tameng untuk melindungi kepentingan segelintir orang.

Kita perlu bertanya dengan jujur: apakah nilai-nilai luhur itu telah benar-benar hadir dalam cara kita memimpin, mengkritik, mengambil keputusan, dan membangun Tanimbar?

Sebab, kebudayaan dapat tetap disebut dalam setiap kesempatan, tetapi kehilangan maknanya apabila tidak lagi menjadi pedoman dalam kehidupan nyata.

Sumpah Pemuda Tidak Boleh Berakhir di Lapangan Upacara

Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa perubahan besar dapat dimulai ketika generasi muda memiliki keberanian untuk bersatu dan memikirkan kepentingan yang lebih luas daripada dirinya sendiri.

Baca Juga :  Dua Tahun LAWAMENA, Tuhepaly Soroti Tujuh Misi Sapta Cita: Banyak Janji Belum Terwujud

Semangat itu seharusnya menjadi panggilan bagi pemuda Tanimbar untuk bangkit dari sikap apatis, memperkuat solidaritas, meningkatkan kapasitas, dan mengambil bagian dalam menentukan arah masa depan daerahnya.

Pemuda tidak boleh hanya menunggu pemerintah membuka jalan. Mereka juga harus membangun kemampuan, memperkuat organisasi, mengembangkan gagasan, menciptakan peluang, serta mengawasi jalannya pemerintahan dengan pikiran jernih dan keberanian moral.

Tetapi perjuangan pemuda juga membutuhkan pemerintah yang bersedia membuka pintu. Ruang partisipasi tidak boleh sekadar formalitas. Program pemberdayaan harus menjawab kebutuhan nyata. Kesempatan kerja dan pengembangan usaha perlu dibangun melalui kebijakan yang transparan dan adil.

Pemerintah tidak cukup mengundang pemuda untuk hadir dalam seremoni. Pemuda harus diberi kesempatan untuk terlibat dalam proses, menyampaikan gagasan, mengawasi pelaksanaan kebijakan, dan ikut menentukan masa depan Tanimbar.

Sebab, masa depan daerah tidak akan menjadi lebih baik apabila generasi mudanya hanya diminta bersabar, sementara persoalan yang mereka hadapi terus dibiarkan tanpa penyelesaian.

Sebuah Pertanyaan untuk Tanimbar

Pada peringatan Sumpah Pemuda ke-98 ini, mungkin kita perlu berhenti sejenak dari kebisingan seremoni dan mendengarkan suara yang selama ini kurang mendapat tempat.

Mendengarkan pemuda yang gelisah melihat masa depannya. Mendengarkan mereka yang berusaha mencari ruang untuk berkarya. Mendengarkan mereka yang memilih bersuara karena tidak ingin persoalan daerah terus berulang.

Kepada pemerintah, refleksi ini adalah ajakan untuk membuktikan bahwa kepemimpinan merupakan pengabdian kepada seluruh masyarakat, bukan hanya kepada mereka yang berada dalam lingkaran terdekat.

Kepada pemuda, ini adalah panggilan untuk terus menjaga idealisme, merawat persatuan, dan memastikan bahwa setiap perjuangan dilakukan dengan integritas serta tanggung jawab.

Kepada seluruh masyarakat Tanimbar, ini adalah pengingat bahwa masa depan generasi muda bukan hanya urusan anak-anak muda. Ia adalah tanggung jawab bersama.

Jangan sampai suatu hari nanti kita bangga mewariskan falsafah Duan Lolat, tetapi gagal mewariskan kehidupan yang adil. Jangan sampai kita lantang berbicara tentang persatuan, tetapi membiarkan perbedaan menjadi alasan untuk menutup ruang dialog. Jangan sampai kita merayakan Sumpah Pemuda setiap tahun, tetapi membiarkan pemuda kehilangan keyakinan terhadap masa depan tanah kelahirannya.

Pemuda Tanimbar tidak membutuhkan janji yang terus diulang. Mereka membutuhkan kesempatan untuk membuktikan kemampuan, ruang untuk menyampaikan kebenaran, dan kepemimpinan yang berani berlaku adil kepada semua.

Sebab, Tanimbar bukan milik satu kelompok, bukan milik satu generasi, dan bukan pula milik mereka yang sedang memegang kekuasaan.

Tanimbar adalah rumah bersama. Dan rumah bersama hanya akan tetap kokoh apabila setiap anaknya merasa dihargai, didengar, dan diberi kesempatan untuk ikut membangunnya.

Pada akhirnya, makna Sumpah Pemuda tidak diukur dari seberapa meriah upacara diselenggarakan, melainkan dari seberapa sungguh-sungguh kita menjaga persatuan, memperjuangkan keadilan, dan memberikan masa depan yang layak bagi generasi penerus.

Di persimpangan jalan Duan Lolat ini, pemuda Tanimbar sedang diuji. Tetapi bukan hanya pemuda yang sedang diuji. Kepemimpinan, kedewasaan demokrasi, dan kesetiaan kita terhadap nilai-nilai leluhur juga sedang dipertaruhkan.

Sebab, ketika suara pemuda berhenti didengar, harapan perlahan kehilangan tempat untuk tumbuh. Dan ketika harapan sebuah generasi mulai padam, masa depan seluruh negeri patut dipertanyakan.

Salam Duan Lolat.

Follow WhatsApp Channel gardamaluku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemkot Ambon Tegaskan , Penataan Perumdam Tirta Yapono dan PT DSA Harus Sesuai Hukum
Para Orang Tua ke-39 Calon IPDN Berharap Semua Lolos Seleksi
Dakwaan Jaksa Digugat di PN Saumlaki! Tim Hukum Nikolas Besitimur Minta Batal Demi Hukum
Kementerian Ekonomi Kreatif Ajak Generasi Muda Ambon Bangun Komunitas Gim Papan
Libatkan 64 Tim, Turnamen Domino ORADO MBD Semarakkan Sumpah Pemuda 2026
Hasil Audit Khusus SK Kenaikan Pangkat Bodong akan Diserahkan ke Wali Kota
54 Atlet Panjat Tebing Ambon Bidik Tiket POPMAL 2027 Lewat Kejurkot

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 21:18 WIT

Pemkot Ambon Tegaskan , Penataan Perumdam Tirta Yapono dan PT DSA Harus Sesuai Hukum

Rabu, 28 Oktober 2026 - 19:52 WIT

REFLEKSI SUMPAH PEMUDA KE-98

Rabu, 28 Oktober 2026 - 19:37 WIT

Para Orang Tua ke-39 Calon IPDN Berharap Semua Lolos Seleksi

Rabu, 28 Oktober 2026 - 19:17 WIT

Selasa, 27 Oktober 2026 - 15:59 WIT

Dakwaan Jaksa Digugat di PN Saumlaki! Tim Hukum Nikolas Besitimur Minta Batal Demi Hukum

Berita Terbaru

Regional

REFLEKSI SUMPAH PEMUDA KE-98

Rabu, 28 Okt 2026 - 19:52 WIT

AMBON

Rabu, 28 Okt 2026 - 19:17 WIT