Uskup Seno Ingatkan Warga Katolik Tanimbar: Selesaikan Konflik Tanah dengan Baik, Bukan dengan Panah

- Redaksi

Kamis, 29 Oktober 2026 - 12:03 WIT

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🤝 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Donasi

TANIMBAR, GARDA-MALUKU.COM, — Uskup Keuskupan Amboina, Mgr. Seno Ngutra, menyampaikan pesan tegas dan penuh harapan kepada umat Katolik di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, agar menyelesaikan setiap konflik tanah dengan cara damai dan menghindari segala bentuk kekerasan. Pesan ini disampaikan dalam sambutannya pada Perayaan 25 Tahun Imamat RD. Agoes Arbol yang digelar di Lorwembun, Senin (26/10/2026).

Dalam sambutannya di hadapan umat dan para tamu undangan, Uskup Seno menyoroti kembali munculnya benih-benih permusuhan antarkampung Katolik yang dipicu oleh persoalan batas tanah.

Ia menyebut sejumlah konflik yang terjadi, seperti antara Kelan dengan Alusi Krawain, Arui dengan Sangliat Krawain, serta Lorwembun dengan Arui. Selain itu, terdapat pula potensi konflik antara Atubul dan Lorulun yang perlu diwaspadai bersama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Tolong, mengenai hal ini tolong dibicarakan baik-baik. Jangan setiap permasalahan harus diselesaikan dengan panah, dengan bakalai, dengan saling membunuh,” tegas Uskup Seno.

Bapa Uskup menekankan bahwa iman kekristenan mengajarkan cinta kasih. Menurutnya, seorang pemenang sejati bukanlah mereka yang menang dengan kekuatan senjata, melainkan mereka yang mampu berdamai tanpa melukai musuh-musuhnya.

“Seorang pemenang sejati adalah dia yang mampu berdamai tanpa melukai musuh-musuhnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Uskup Seno meminta para kepala desa, dewan pastoral paroki, serta stasi untuk tidak membawa persoalan antarkampung ke ranah permusuhan, meskipun perasaan kecewa atas suatu persoalan tetap ada.

Ia mengingatkan bahwa desa-desa Katolik di Tanimbar sangat rentan terhadap persoalan batas tanah, terutama ketika musim berkebun tiba.

“Karena itu mari tunjukkan iman Katolik kita. Mari kita membantu pemerintah dan aparat keamanan untuk betul-betul menjadikan kampung-kampung Katolik menjadi kampung-kampung yang damai, yang suka mengampuni, yang dapat menyelesaikan masalah dan bukan menciptakan persoalan baru,” harapnya.

Pesan Uskup Seno ini menjadi pengingat bagi seluruh umat Katolik di Tanimbar akan pentingnya menjaga kerukunan dan menyelesaikan setiap persoalan dengan semangat damai, sesuai dengan ajaran cinta kasih Kristus.

Pesan Kesehatan dan Panggilan Imamat
Sebelum menyampaikan pesan tentang konflik tanah, Uskup Seno mengawali sambutannya dengan pesan ringan namun serius tentang kesehatan. Ia menceritakan kegiatan jalan pagi yang diikuti banyak umat dari pastoran hingga jembatan sebelum Alusi Krawain.

“Langkah pertama keluar dari pastoran, iramanya sama sampai kembali ke pastoran. Makanya itu banyak yang berguguran di tengah jalan,” ujarnya disambut tawa umat.

Ia menekankan pentingnya menjaga kesehatan bagi para pastor dan umat. “Olahraga, jaga pola makan, tidur dengan baik, juga jangan banyak minum minuman keras,” pesannya.

Secara khusus, ia meminta para pastor yang masih mengonsumsi minuman keras untuk bertobat dan membatasi diri.

“Para pastor yang masih minum, bertobatlah ya, tidak boleh minum banyak-banyak lagi. Karena nanti kalau sakit, kamu belum sakit jadi belum rasa,” katanya.

Uskup Seno juga mengajak umat untuk membantu para imam membatasi diri dalam hal minum.

“Mari kita membantu para imam kita untuk membatasi diri dalam soal minum,” ajaknya.

Terkait panggilan imamat, Uskup Seno menyoroti keberkahan Desa Lorwembun yang telah melahirkan banyak imam. Ia menyebut Pastor Tio yang telah merayakan 25 tahun imamat, Pastor Agoes Arbol yang merayakan pesta perak imamatnya, dan tahun depan Pastor Andi Sainyakit akan merayakan 25 tahun imamat.

Baca Juga :  Fraksi PDIP Dukung Aksi Save Hutan Yamdena, Jidon Kelmanutu, "Ini Gerakan Moral Anak Tanimbar"

“Ini menjadi rekor yang sangat fantastik, sangat luar biasa,” ujarnya. Namun, ia mengingatkan bahwa panggilan imamat selalu dimulai dari keluarga.

“Kalau keluarga itu baik, bapa dan ibu rajin berdoa, maka akan menular ke anak-anak sehingga anak-anak merasa terpanggil,” jelasnya.

Dengan nada bercanda namun sarat makna, Uskup Seno mendorong keluarga-keluarga Katolik untuk tidak membatasi kelahiran.

“Bagi yang punya anak dan belum banyak, kasih banyak sudah mulai malam ini. Ibu-ibu tertawa berarti sudah siap. Tidak boleh ikat rahim lagi,” katanya disambut gelak tawa.

“Banyak sudah masuk suster dan pastor baru, kalian buat anak sedikit lagi, rugi besar sekali kita ini. Karena itu beranak cucu dan berkembang biak dan penuhi hutan-hutan Yamdena ini,” tambahnya.

Lorwembun Menjadi Paroki Definitif
Dalam kesempatan itu, Uskup Seno juga mengumumkan bahwa Lorwembun bersama empat stasinya, Alusi Kelan, Alusi Bukjalim, Alusi Tamrian, dan Alusi Batjasi, telah resmi menjadi paroki definitif.

Ia meminta agar sarana dan prasarana segera disiapkan, termasuk perluasan gereja yang saat ini dinilainya paling kecil di antara gereja-gereja lain.

“Tolong, pastor paroki dan dewan, pastoran sementara dibangun, tetapi gereja ini juga harus diperhitungkan karena ini adalah pusat paroki. Belum lagi harus ada aula sebagai tempat pertemuan umat,” pintanya.

Ia juga menyarankan pembangunan panggung permanen di lokasi tersebut agar setiap acara tidak perlu berulang kali memasang tenda.

“Jadi desa dan bersama dewan tolong memikirkan agar lokasi ini benar-benar dibuat menjadi pusat paroki,” ujarnya.

Gereja Menolak HPH
Pesan tegas lainnya disampaikan Uskup Seno terkait Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Ia menegaskan bahwa Gereja Katolik tidak akan berpaling untuk menyetujui HPH, apa pun alasannya.

“Para pastor, dengar baik-baik. Gereja tidak boleh berpihak pada perusahaan atau oknum yang menghabiskan dan membabat pohon-pohon di hutan walaupun bilang mereka kasih CSR,” tegasnya.

Uskup Seno mengingatkan bahwa uang CSR yang diberikan perusahaan tidak sebanding dengan kerusakan hutan yang ditimbulkan.

“Uang itu boleh mereka berikan dalam tiga tahun, tapi hutan kalian dibabat habis, dan pohon yang sama kalau kamu mau sebesar yang mereka tebang tunggu tiga generasi lagi. Dan ini dosa kita bagi anak cucu di Tanimbar,” ujarnya.

Ia memperingatkan para pastor dan dewan pastoral paroki agar tidak menerima uang dari perusahaan HPH dengan alasan apa pun.

“Kalau saya dengar seorang pastor menerima uang seperti itu, siap-siap terima SK baru,” ancamnya.

Uskup Seno mengutip Paus Fransiskus yang menyebut bumi sebagai ibu kita bersama.

“Tidak mungkin kita membunuh ibu kita. Karena ini demi kemaslahatan banyak orang,” katanya.

Ia bahkan mengancam tidak akan menahbiskan diakon jika mendengar ada desa yang menerima uang HPH untuk persiapan misa pertama.

“Kalau saya dengar itu, diakon kalian tidak akan ditahbiskan,” tegasnya.

Hidupkan Kelompok Kategorial
Uskup Seno juga menyoroti pentingnya kelompok-kelompok kategorial dalam gereja. Ia mengapresiasi rekoleksi dan adorasi sekitar 150 kaum bapa dari perwakilan paroki-paroki yang digelar tadi malam.

“Sebuah paroki akan hidup ketika semua kelompok kategorial hidup,” ujarnya.

Ia meminta para pastor paroki untuk memberikan ruang bagi Sekami dan Legio Christi (LC) untuk bertumbuh.

“Pastor-pastor yang tidak suka dengan kelompok-kelompok kategorial, lebih baik bertobat sudah,” katanya.

Baca Juga :  Petrus Werembinan, "Pulau Kecil Tanimbar Menanggung Beban Lingkungan Terlalu Besar"

Uskup Seno juga menyayangkan adanya pastor yang membekukan LC di tahun-tahun lalu.

“Kepada para pastor, tolong, nanti pada bulan Desember saya akan tanya melalui Sekum, di paroki mulai kelompok-kelompok ini hidup atau tidak. Ini juga menjadi kriteria bagi seorang pastor paroki,” tegasnya.

Apresiasi kepada Pemerintah dan Rekan Imam
Di akhir sambutannya, Uskup Seno menyampaikan terima kasih kepada pemerintah daerah yang diwakili Wakil Bupati beserta jajarannya, anggota DPRD provinsi dan kabupaten, serta para rekan imam.

“Tanimbar ini sungguh-sungguh menjadi basis umat Katolik terbesar dari kevikepan-kevikepan yang lain. Karena besar, mereka membutuhkan pelayanan yang banyak. Sabarlah dalam pelayanan, setialah dalam karya-karyamu, buatlah yang terbaik untuk mereka,” pesannya kepada para imam.

Ia juga mengingatkan umat agar memahami bahwa para imam tidak sempurna.

“Tetapi kalau kita hadir dan berdoa bersama mereka, berkunjung ke keluarga mereka, maka umat akan mengerti, memahami, dan mendoakan kita sekalian,” ujarnya.

Kepada biarawan-biarawati, Uskup Seno meminta mereka berkarya dengan baik untuk umat di Keuskupan Amboina, terutama di Kevikepan Tanimbar.

“Semoga di tahun yang akan datang kita akan bertemu dalam perayaan yang sama, dalam 25 tahun hidup sebagai imam dari Pastor Andi Sainyakit. Untuk semuanya terima kasih, Tuhan memberkati,” tutupnya.

Menjaga Warisan Damai Tanimbar
Pesan Uskup Seno di Lorwembun bukan sekadar seruan moral, melainkan pengingat akan sejarah panjang konflik tanah di Tanimbar yang pernah menyisakan luka mendalam.

Peristiwa pembakaran Lorwembun dua dekade silam, yang disebut Pastor Agoes dalam kesaksiannya menjadi bukti bahwa ketegangan antarkampung pernah mencapai titik paling gelap.

Kini, ketika benih-benih permusuhan kembali muncul, gereja hadir sebagai suara profetik yang menyerukan perdamaian. Namun, seruan ini membutuhkan respons dari semua pihak: kepala desa, tokoh adat, dewan pastoral, dan seluruh umat.

Konflik batas tanah di Tanimbar kerap dipicu oleh ketidakjelasan patok dan warisan adat yang tumpang tindih. Penyelesaiannya tidak cukup hanya dengan pendekatan hukum formal, tetapi juga memerlukan dialog budaya yang melibatkan para tetua adat dan tokoh agama.

Gereja Katolik, sebagai institusi yang paling dipercaya di Tanimbar, memiliki peran strategis untuk menjadi mediator. Namun, seperti ditegaskan Uskup Seno, gereja tidak boleh terjerat kepentingan ekonomi-politik, termasuk dalam persoalan HPH yang mengancam kelestarian hutan Yamdena.

Ke depan, paroki-paroki di Tanimbar perlu membentuk tim perdamaian lintas desa yang bekerja sama dengan pemerintah kecamatan. Pendidikan perdamaian juga perlu dimasukkan dalam kurikulum Sekami dan kelompok kategorial lainnya, sehingga generasi muda Tanimbar tumbuh dengan kesadaran bahwa penyelesaian konflik tidak pernah melalui panah, melainkan melalui dialog dan pengampunan.

Pesan Uskup Seno, “Seorang pemenang sejati adalah dia yang mampu berdamai tanpa melukai musuh-musuhnya” hendaknya menjadi pegangan bersama.

Tanimbar yang damai bukanlah utopia, melainkan buah dari komitmen kolektif untuk menjaga warisan leluhur, tanah yang subur, hutan yang lestari, dan hati yang penuh kasih.

Dengan Lorwembun resmi menjadi paroki definitif, tanggung jawab moral pun bertambah. Paroki bukan hanya pusat peribadatan, tetapi juga pusat perdamaian dan pelestarian ciptaan. Sebagaimana dikatakan Paus Fransiskus, bumi adalah ibu kita bersama dan Tanimbar adalah bagian dari ibu itu yang harus dijaga dengan penuh cinta.

Follow WhatsApp Channel gardamaluku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Somar Awear hingga Sam Bomaris, Lirik Lama yang Hidupkan Sejarah Panggilan Imam
Harta dalam Bejana Tanah Liat: Syukur 25 Tahun Imamat di Lorwembun
Dengar Keluh Warga Sabal, Yan Sairdekut Siapkan Speedboat dan 10 Titik Lampu Jalan
Uskup Ngutra Tiba di Tanimbar, Panitia Pastikan Seluruh Agenda Kunjungan Kanonik Berjalan Lancar
Eksekusi Tanah di Desa Lauran Sukses, PN Saumlaki dan Polres Diapresiasi
Rata dengan Tanah, Ketika Rumah Kos dan Harapan Ikut Tergusur
Usai Sebulan Digembleng di Bimbel, 70 Casis TNI AD Tanimbar Bertolak ke Ambon
PK dan ISKA Sepakat Bergandeng Tangan, Berkolaborasi Bersama Pemda Bangun Tanimbar Lebih Baik

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 12:03 WIT

Uskup Seno Ingatkan Warga Katolik Tanimbar: Selesaikan Konflik Tanah dengan Baik, Bukan dengan Panah

Selasa, 27 Oktober 2026 - 03:19 WIT

Somar Awear hingga Sam Bomaris, Lirik Lama yang Hidupkan Sejarah Panggilan Imam

Senin, 26 Oktober 2026 - 19:18 WIT

Harta dalam Bejana Tanah Liat: Syukur 25 Tahun Imamat di Lorwembun

Jumat, 23 Oktober 2026 - 13:57 WIT

Dengar Keluh Warga Sabal, Yan Sairdekut Siapkan Speedboat dan 10 Titik Lampu Jalan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 00:13 WIT

Uskup Ngutra Tiba di Tanimbar, Panitia Pastikan Seluruh Agenda Kunjungan Kanonik Berjalan Lancar

Berita Terbaru

Regional

REFLEKSI SUMPAH PEMUDA KE-98

Rabu, 28 Okt 2026 - 19:52 WIT