Kejujuran Radikal yang Disalahpahami

- Redaksi

Selasa, 7 April 2026 - 20:20 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GardaMaluku.com, Ambon; Pernyataan Wakil Gubernur Maluku, Abdullah Vanath dalam forum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia di Hotel Pasifik memang mengundang perhatian luas. Ungkapan “menipu rakyat” yang disampaikan secara terbuka tentu bukan diksi yang ringan, apalagi datang dari seorang pejabat publik.

Namun, di tengah riuhnya reaksi, penting bagi kita untuk membaca pernyataan tersebut dengan kerangka berpikir yang jernih, bukan emosional.

Dalam perspektif komunikasi publik, apa yang disampaikan Wakil Gubernur sesungguhnya, saya sebut sebagai bentuk kejujuran radikal. Sebuah upaya mengakui keterbatasan pemerintah di tengah ekspektasi yang tinggi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ini bukan sebatas pilihan kata, tetapi tentang keberanian membuka realitas yang sering kali disembunyikan dalam narasi formal pemerintahan.

Kita perlu membedakan antara pengakuan atas kegagalan target dan pengakuan niat menipu. Dua hal ini tidak identik. Dalam banyak studi tata kelola pemerintahan (good governance), transparansi justru menjadi fondasi utama untuk membangun kembali kepercayaan publik. Tanpa kejujuran, kepercayaan hanya akan menjadi ilusi yang rapuh.

Baca Juga :  Lohia Sapalewa: Jejak Pemimpin dan Harapan di Ujung Pegunungan Taniwel

Namun demikian, reaksi publik yang muncul, termasuk dari mereka yang mengatasnamakan loyalis, juga perlu dilihat sebagai bagian dari dinamika demokrasi. Kritik adalah hal yang sah.

Tetapi ketika kritik berubah menjadi serangan personal, bahkan hingga mendorong narasi mundur atau delegitimasi, maka yang terjadi bukan lagi kontrol publik, melainkan fragmentasi sosial yang justru merugikan semua pihak.

Lebih jauh, narasi yang seolah-olah menggambarkan adanya perpecahan antara Gubernur dan Wakil Gubernur perlu disikapi secara hati-hati. Dalam sistem pemerintahan daerah, relasi kepemimpinan tidak dibangun di atas persepsi publik semata, melainkan pada mekanisme kerja dan tanggung jawab bersama.

Menggiring opini seolah ada konflik internal tanpa dasar yang kuat justru berpotensi melemahkan stabilitas pemerintahan itu sendiri.

Di titik ini, kita perlu diedukasi bahwa tidak semua pernyataan keras adalah tanda kegagalan kepemimpinan. Kadang, itu justru sinyal adanya kesadaran kritis dari dalam sistem. Yang lebih penting adalah bagaimana pernyataan tersebut ditindaklanjuti, apakah menjadi refleksi untuk perbaikan kebijakan, atau berhenti sebagai kontroversi sesaat.

Baca Juga :  Meritokrasi Maluku: Antara Harapan, Tantangan, dan Ancaman Balas Jasa

Oleh karena itu, yang dibutuhkan saat ini bukanlah memperuncing perbedaan, tetapi memperluas ruang dialog. Pemerintah perlu memperbaiki komunikasi publiknya agar lebih terukur dan kontekstual, sementara masyarakat, termasuk kelompok-kelompok yang mengklaim diri sebagai pendukung perlu menahan diri dari sikap reaktif yang berlebihan.

Perlu disadari, membangun daerah tidak hanya soal janji yang ditepati, tetapi juga tentang kejujuran dalam menghadapi keterbatasan, serta kedewasaan bersama dalam menyikapi realitas. Di situlah kualitas kita sebagai tokoh ditengah masyarakat dan kepemimpinan diuji, bukan dalam kondisi ideal, tetapi justru dalam situasi yang penuh tekanan.***

Dikutip dari tredingmaluku.com dengan Judul Asal : Diksi “Menipu” dan Kejujuran Radikal

Oleh : Muhammad Fahrul Kaisuku, Direktur Rumah Inspirasi dan Literasi Maluku

Berita Terkait

Alga Hijau Dictyosphaeria versluysii dan Ekonomi Biru Berbasis Kearifan Lokal
Menakar Keadilan di Bumi Raja-Raja: Membongkar Tarik Ulur Kebijakan PIT di Laut Maluku
Kembalikan Kejayaan Rempah Maluku: Cengkeh Hutan Amalatu sebagai Motor Kebangkitan Ekonomi SBB
Umar Lessy & RR Otak Dibalik Penghentian Musda Golkar Kota Ambon
Bumi, Tanah, dan Ingatan yang Sengaja Dilupakan
Undangan Pemda yang Bikin Malu Publik SBB
Domino dari Meja Rakyat ke Arena Prestasi
Bos Ritel, Tanah Sengketa, dan DPRD Maluku yang Gigit Lidah: Mafia Tanah di Ambon Tak Tersentuh

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 21:39 WIT

Alga Hijau Dictyosphaeria versluysii dan Ekonomi Biru Berbasis Kearifan Lokal

Minggu, 17 Mei 2026 - 14:55 WIT

Menakar Keadilan di Bumi Raja-Raja: Membongkar Tarik Ulur Kebijakan PIT di Laut Maluku

Rabu, 6 Mei 2026 - 11:19 WIT

Kembalikan Kejayaan Rempah Maluku: Cengkeh Hutan Amalatu sebagai Motor Kebangkitan Ekonomi SBB

Rabu, 6 Mei 2026 - 01:25 WIT

Umar Lessy & RR Otak Dibalik Penghentian Musda Golkar Kota Ambon

Kamis, 23 April 2026 - 13:09 WIT

Bumi, Tanah, dan Ingatan yang Sengaja Dilupakan

Berita Terbaru