Harta dalam Bejana Tanah Liat: Syukur 25 Tahun Imamat di Lorwembun

- Redaksi

Senin, 26 Oktober 2026 - 19:18 WIT

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🤝 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Donasi

Tanimbar, Garda-Maluku.com, – Suasana haru dan syukur menyelimuti Stasi Santo Yoseph Lorwembun pada Senin sore, 26 Oktober 2026. Tepat pukul 17.00 WIT, Perayaan Ekaristi Kudus dalam rangka syukur 25 tahun imamat RD. Agoes Arbol dimulai, dipimpin langsung oleh Mgr. Seno Ngutra, Uskup Dioses Amboina.

Perayaan istimewa ini turut dihadiri puluhan imam sebagai konselebran, serta sejumlah tokoh penting termasuk Juliana Ch. Ratuanak, Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar, beberapa pimpinan OPD, Camat Tanimbar Selatan, Camat Kormomolin, dan Kapolsek Kormomolin. Koor penggerak dari Paroki HKY Olilit Barat turut memeriahkan perayaan dengan nyanyian-nyanyian yang menyentuh hati.

Kesetiaan Tuhan dalam Kerapuhan
Dalam pengantarnya, Mgr. Seno Ngutra menyampaikan refleksi mendalam tentang perjalanan 25 tahun sebagai imam. Ia menegaskan bahwa dalam perjalanan panjang tersebut dapat disimpulkan bahwa Tuhan tetap setia memberkati dan mendampingi orang-orang yang dipilih-Nya menjadi imam-Nya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Dalam kerapuhan, keterbatasan bahkan dalam kejatuhan dalam dosa sekalipun para imam akhirnya menyadari bahwa mereka dapat bangkit kembali untuk berjalan terus karena Tuhan tetap setia mencintai mereka,” ujar Mgr. Seno.

Ia menambahkan bahwa Tuhan tak pernah menyesal dan meninggalkan bahkan membiarkan, tetapi kasih-Nya tetap terlihat nyata ketika seorang imam mengalami keterpurukan, kegagalan, dan bahkan kejatuhan dalam dosa.

“Maka hari ini kita bersyukur bukan pertama-tama atas perjalanan panjang 25 tahun kami bertiga, Mgr. Seno Ngutra, RD. Agoes Arbol dan RD. Kornelis Seralarat dan dua teman kami yang telah meninggal, tetapi dalam 25 tahun ini kami menyadari bahwa Tuhan tetap ada di sana,” tambahnya.

Kenangan Misa Pertama yang Penuh Makna
Dalam homilinya, RD. Agoes Arbol sang yubilaris asal Desa Lorwembun, mengenang kembali momen tahbisan yang berlangsung pada 6 Oktober 2001 di Pantai Langgur, Pantai Para Martir. Saat itu, lima orang ditahbiskan menjadi imam dengan penuh semangat dan kepercayaan yang tinggi.

“Tanggal 6 Oktober 2001, di Pantai Langgur, Pantai Para Martir, kami berlima dengan gagah, dengan kepercayaan yang tinggi melangkah ke Altar Suci untuk ditahbiskan menjadi Imam. Hari ini, dari lima orang imam tinggal tiga,” ujarnya penuh haru.

Baca Juga :  Fraksi PDIP Dukung Aksi Save Hutan Yamdena, Jidon Kelmanutu, "Ini Gerakan Moral Anak Tanimbar"

Kehadiran koor dari Olilit Barat memiliki makna khusus bagi sang yubilaris. “Kami menghadirkan koor yang nyanyi dari Olilit Barat, ada alasan yang sangat penting untuk kami, mengapa koor Olilit Barat? Karena sejatinya Pastor Almarhum Matheus Londar itu ada bersama-sama kami merayakan pesta 25 tahun,” jelasnya.

RD. Agoes mengenang bagaimana almarhum Pastor Matheus Londar, yang akrab disapa “kawan Theus,” telah menolongnya pada masa-masa awal pelayanan.

“Maka sebagai penghormatan atas kehadirannya diwakili oleh koor ini, kawan Theus yang sudah di surga pasti senyum. Pasti dia bilang, ‘Agoes, ose seng lupa beta pu kebaikan 25 tahun lalu,'” kenangnya sambil tersenyum.

Harta dalam Bejana Tanah Liat
Mengutip bacaan kedua dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus, RD. Agoes merenungkan makna mendalam tentang “harta dalam bejana tanah liat.”

“Bejana tanah liat itu harganya murah, tidak berkilau, tetapi yang paling penting tanah itu mudah pecah. 25 tahun lalu kami berdiri di altar tahbisan. Ada 5 anak muda yang penuh semangat: Mgr. Seno Ngutra, Alm. Yanuaris Oratmangun, Alm. Pastor Matheus Londar, Pastor Koor Seralarat dan saya,” paparnya.

Mengapa mereka bisa bertahan 25 tahun? Jawabannya terletak pada motto tahbisan yang diambil dari kata-kata Santo Yohanes Rasul: “Tinggallah dalam Kasih Karunia Allah.”

Profil Para Imam dan Para Rasul
Dalam homilinya, RD. Agoes memberikan refleksi menarik dengan membandingkan rekan-rekan seimamatnya dengan para rasul Yesus. Mgr. Seno Ngutra dinilainya cocok dengan profil Santo Petrus, sosok gembala yang berani melangkah ke tempat yang dalam meskipun lelah, siap bertarung iman, dan menebarkan jala kepemimpinan atas perintah Yesus Kristus.

“Selama 25 tahun saya belajar banyak dari Monsinyur Ino. Untuk taat. Saat ini beliau telah menjadi uskup dengan motto Duc in Altum (Bertolaklah ke tempat yang dalam),” ujarnya.

Sementara Pastor Kornelis Seralarat, yang akrab disapa Pastor Koor, dinilai memiliki profil Rasul Matius, murid yang tekun, pekerja keras, dan rendah hati. “Pastor Kor ini di belakang layar, padahal beliau ini doktor. Terima kasih kawanku, kita belajar tentang kesetiaan. Kalau dari Monsinyur ini tentang ketaatan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Pertobatan Ekologis di Bumi Duan Lolat: LKLM, Pemuda Katolik, dan ISKA Tanimbar Tanam Harapan di Sumber Air Bomaki

Untuk dirinya sendiri, RD. Agoes memilih profil Rasul Yohanes, murid yang dikasihi Yesus. “Motto itu bukan menunjukkan kehebatannya tapi bersandar di dada Yesus dan setia berdiri di kaki Salib-Nya. Seperti Yohanes, saya belajar bahwa rahasia bertahan 25 tahun bukanlah dengan berlari cepat melainkan betah dan melekat dalam imamatnya,” jelasnya.

Empat Kunci Bertahan dalam Imamat
RD. Agoes membagikan empat kunci yang membuatnya bertahan selama 25 tahun dalam pelayanan:

Pertama, ketenangan doa. “Tempat menimba kekuatan spiritual di hadapan Sakramen Maha Kudus. Tanpa doa harian, jiwa seorang imam akan mati dan gampang emosi.”

Kedua, mengakui kelemahan. “Kerendahan hati untuk mengakui ketidakmampuan diri di hadapan Tuhan, seperti nabi Yesaya. Di saat kita sadar kita lemah, di situlah rahmat Allah bekerja menjadi sempurna.”

Ketiga, ikhlas mengampuni. “Melepaskan ganjalan hati dan luka-luka dalam pelayanan. Dendam akan mendatangkan bencana tetapi hati yang ikhlas akan memulihkan jiwa.”

Keempat, hati penuh syukur. “Menyadari segala suka dan duka dalam perjalanan imamat adalah Gratia Dei (Kasih Karunia Allah) yang patut disyukuri setiap hari.”

Ucapan Terima Kasih
Di akhir homilinya, RD. Agoes menyampaikan terima kasih yang tulus kepada seluruh umat. “Anda semua adalah tangan-tangan Tuhan yang menopang bejana tanah liat imamat saya dan teman-teman sehingga tidak mudah pecah di tengah zaman ini.”

Ia juga memohon doa agar mereka bertiga, Mgr. Seno Ngutra, RD. Kornelis Seralarat, dan dirinya, tetap setia memikul tugas sampai garis akhir. Serta mendoakan dua rekan seangkatan yang telah berpulang, Alm. Pastor Matheus Londar dan Alm. Pastor Yanuaris Oratmangun.

“Mari kita berdoa untuk dua kawan kami yang terkasih yang selalu kami bangga dan ingat,” tutupnya.

Perayaan syukur 25 tahun imamat ini menjadi momentum refleksi mendalam tentang kesetiaan Tuhan dalam kelemahan manusia, sebuah kesaksian bahwa harta berharga imamat memang tersimpan dalam bejana tanah liat yang rapuh, namun dijaga oleh kasih karunia Allah yang tak pernah berkesudahan.

“Tinggallah dalam Kasih Karunia Allah”, Motto Tahbisan RD. Agoes Arbol, 6 Oktober 2001

Follow WhatsApp Channel gardamaluku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Somar Awear hingga Sam Bomaris, Lirik Lama yang Hidupkan Sejarah Panggilan Imam
Dengar Keluh Warga Sabal, Yan Sairdekut Siapkan Speedboat dan 10 Titik Lampu Jalan
Uskup Ngutra Tiba di Tanimbar, Panitia Pastikan Seluruh Agenda Kunjungan Kanonik Berjalan Lancar
Eksekusi Tanah di Desa Lauran Sukses, PN Saumlaki dan Polres Diapresiasi
Rata dengan Tanah, Ketika Rumah Kos dan Harapan Ikut Tergusur
Usai Sebulan Digembleng di Bimbel, 70 Casis TNI AD Tanimbar Bertolak ke Ambon
PK dan ISKA Sepakat Bergandeng Tangan, Berkolaborasi Bersama Pemda Bangun Tanimbar Lebih Baik
Pertobatan Ekologis di Bumi Duan Lolat: LKLM, Pemuda Katolik, dan ISKA Tanimbar Tanam Harapan di Sumber Air Bomaki

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 03:19 WIT

Somar Awear hingga Sam Bomaris, Lirik Lama yang Hidupkan Sejarah Panggilan Imam

Jumat, 23 Oktober 2026 - 13:57 WIT

Dengar Keluh Warga Sabal, Yan Sairdekut Siapkan Speedboat dan 10 Titik Lampu Jalan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 00:13 WIT

Uskup Ngutra Tiba di Tanimbar, Panitia Pastikan Seluruh Agenda Kunjungan Kanonik Berjalan Lancar

Selasa, 20 Oktober 2026 - 20:43 WIT

Eksekusi Tanah di Desa Lauran Sukses, PN Saumlaki dan Polres Diapresiasi

Selasa, 20 Oktober 2026 - 15:38 WIT

Rata dengan Tanah, Ketika Rumah Kos dan Harapan Ikut Tergusur

Berita Terbaru